Tata Upacara Siraman, Makna dan Tata Caranya

Tata upacara siraman, berikut ini filosofi dan makna di balik rangkaian tata cara siraman yang menjadi ciri khas pernikahan adat Jawa ini

Tata Upacara Siraman, Makna dan Tata Caranya

Menyaksikan pelaksanaan tata upacara siraman yang diselenggarakan keluarga besar Kaesang Pangarep dan Erina Gudono. Membuat banyak orang penasaran, apa sebenarnya makna dibalik tata acara adat jawa tersebut.

Acara ini biasanya dilangsungkan sehari sebelum upacara pernikahan adat jawa diadakan. Baik itu untuk adat jawa Ngayogyakarta ataupun adat jawa Surakartan (Solo).

Tata Cara Adat Siraman

Dalam tata upacara siraman,  acara ini berlangsung satu hari sebelum pernikahan berlangsung. Untuk mengadakan upacara ini, pihak keluarga perlu menyiapkan air yang datang dari 7 sumber air dan kembang setaman.

Kembang setaman di sini termasuk di dalamnya bunga-bungaan wangi seperti mawar, melati, kenanga dan kanthil.

Sementara air 7 sumber ini diambil dari sumber air masing-masing rumah keluarga berbesan, air zam-zam sebagai air dari sumber tanah suci dan sisanya dari 4 sumber berbeda yang dianggap membawa berkah.

Biasanya 4 sumber itu bisa datang dari air sumber masjid atau rumah ibadah besar di kota tersebut, air tempur atau pertemuan dua sungai, air sendang, air dari keraton dan lain sebagainya.

Upacara biasanya diadakan dengan sebuah panggung kecil yang dialaskan anyaman daun kelapa. Calon pengantin sudah mengenakan pakaian khusus untuk siraman. Beberapa mengenakan pakem dengan busana lilitan kain jumputan. Namun kini banyak yang memilih beragam corak batik sebagai variasi.

Awali upacara diawali dengan meracik air siraman dari 7 sumber, air dari dua buah kelapa hijau dan kembang setaman.

Setelah air teracik dengan baik, iringan calon pengantin dan keluarga bersama pinisepuh memasuki area siraman. Pinisepuh membawa uborampe berupa jarik grompol satu lembar, nagasari satu lembar, handuk, dan padupan.

Serampung pembacaan doa, calon pengantin menjalani prosesi siraman dari ujung kepala, tangan dan badan. Secara berurutan, calon pengantin disiram oleh orang tua, kakak, nenek dan pini sepuh lain sebanyak 7 orang.

Usai ketujuh orang menyiram, tata acara siraman berikutnya adalah berwudhu dengan air racikan. Setelahnya calon pengantin diiringi untuk memasuki rumah untuk mengeringkan diri dan berganti pakaian. Dalam sejumlah tradisi, calon pengantin digendong menuju ke dalam oleh sang ayah.

Sementara air yang tersisa, biasanya dikirimkan ke pihak pria untuk kembali digunakan sebagai air siraman di kediaman keluarga pria.

Makna Di Balik Tata Upacara Siraman

Dalam filosofi Jawa, tata upacara siraman memiliki makna yang mendalam. Ini merupakan bentuk simbolis dari upaya pembersihan diri baik raga maupun jiwa seseorang sebelum memasuki jenjang pernikahan.

Tata upacara siraman ini juga bisa dianggap sebagai cara untuk membersihkan diri dari gangguan yang bersifat halus. Menghilangkan keraguan dan aura negatif pada diri calon pengantin.

Upacara juga biasanya berakhir dengan berwudhu yang dimaksudkan untuk membersihkan diri serta mensucikan diri menjelang upacara pernikahan.

Upacara ini juga dilakukan dengan banyak menghadirkan angka tujuh. Baik itu dengan menggunakan air dari 7 sumber dan melibatkan 7 orang keluarga dan pinisepuh untuk turut menyiram calon pengantin.

Angka tujuh dalam bahasa jawa disebut pitu, yang kemudian diasumsikan dalam filosofi jawa sebagai singkatan dari kata pitulungan. Pitulungan berarti pertolongan, yang dimaknai sebagai permohonan untuk selalu dalam pertolongan Tuhan.  

Meski dalam sejumlah literatur, tidak ada aturan jelas yang mengatur jumlah orang yang menyiram, hanya diharuskan untuk ganjil. Hanya saja membatasinya menjadi 7 selain untuk menguatkan kesan pitu tadi, juga supaya jumlahnya tidak terlalu banyak dan terlalu sedikit.

Pada sisi lain, air 7 sumber, termasuk di dalamnya adalah air dari tanah haram yang dianggap menjadi berkah tersendiri, terutama untuk muslim. Kemudian air dari kediaman masing-masing besan yang diharapkan dapat menjadi sarana penyatu kedua keluarga dan pasangan.

Air kelapa yang manis diharapkan dapat menjadi permohonan supaya pernikahan mereka nantinya terasa manis di hati. Air kelapa sendiri dalam filosofi jawa memiliki nilai tinggi. Karena air kelapa bisa menghilangkan racun, terasa manis dan selalu memberi kesegaran.

Tentu saja setiap bagian dari tata upacara siraman dibuat sebagai wujud doa dan harapan agar pernikahan kedua calon mempelai akan selalu dalam pertolongan Tuhan. Juga akan selalu harum dan manis saat dijalankan.