Selamatkan Generasi Muda dengan Islam (bag. 1) 

Generasi muda seharusnya mampu memimpin perubahan di tengah umat yang sedang terpuruk. Karena di tangan merekalah masa depan suatu bangsa dipertaruhkan.

Selamatkan Generasi Muda dengan Islam (bag. 1) 

Generasi muda seharusnya mampu memimpin perubahan di tengah umat yang sedang terpuruk. Karena di tangan merekalah masa depan suatu bangsa dipertaruhkan, sehingga banyak pihak yang menaruh harapan besar pada pemuda. 

Namun tidak bisa dimungkiri di lain sisi sebagian besar pemuda berada pada kondisi yang masih labil dan belum konsisten dalam bersikap sehingga sangat mudah untuk dipengaruhi oleh berbagai pihak.

Terlebih lagi memang potret para pemuda muslim saat ini cenderung tersesat dari potensi sejatinya. Mereka menjadi target sasaran berbagai pihak, terutama musuh-musuh Islam. 

Pemuda muslim dijadikan sasaran tembak untuk perang pemikiran. Tentu tujuan utamanya adalah menjauhkan generasi muda muslim dari cahaya pemikiran Islam yang lurus. Selanjutnya mengalihkan mereka dari perjuangan kebangkitan Islam. 

Dalam sistem demokrasi pemuda yang kritis dan ideologis akan dibungkam karena dapat membahayakan kepentingan oligarki dan para kapital yang sudah berkelindan dalam kapitalisme. 

Maka melalui pemikiran serta ide sekuler kapitalisme yang rusak dan merusak, Barat ingin mengebiri potensi pemuda muslim serta terus berupaya untuk mengikis juga menjauhkan mereka dari pemahaman Islam yang benar, dan melunturkan kebanggaannya sebagai pemuda Islam.

Tak hanya itu para pemuda juga diarahkan untuk meninggalkan syariat saat berkiprah di tengah umat. Kaum muda dijadikan lebih tertarik membahas cara pengembangan iptek, modernisasi, juga globalisasi. Sementara agama dianggap tabu untuk dibahas di luar masjid.

Semua pemikiran sekuler tersebut dibuat agar Islam hanya diambil esensinya semata, sedangkan syariatnya ditolak karena dianggap sudah tidak sesuai zaman dan bertentangan dengan nilai-nilai universal, seperti kesamaan, toleransi, kebebasan, serta kesetaraan gender.

Sehingga para pemuda muslim pun diserang dengan senjata liberalisme, HAM, kesetaraan gender, dan moderasi Islam.

Liberalisme, Kebebasan untuk Individu 

Liberalisme yang didefinisikan sebagai paham untuk kebebasan individu ini dalam sistem kapitalisme, dikenal menjadi empat kebebasan. Diantaranya yaitu kebebasan beragama, berperilaku, berpendapat, dan kepemilikan.

Paham kebebasan yang masuk dan diadopsi negeri-negeri muslim membuat pemuda berbondong-bondong terjerumus dalam berbagai aktivitas sesat yang diharamkan Islam. Seperti pergaulan bebas, elgebete, narkoba, kekerasan, dan terlibat teknologi sesat yang melalaikan (gim daring, pinjaman, dan judi online). Hingga berbagai gelaran “sampah peradaban” semisal Fashion Week, barisan penggemar drakor dan K-Pop.

Hak Asasi Manusia (HAM) 

Hak Asasi Manusia (HAM) menjadi standar nilai kemanusiaan. Tujuannya adalah untuk melindungi hidup, keamanan pribadi, dan kemerdekaan; melindungi kebebasan berpendapat, berserikat, beragama, bergerak, dan berkumpul secara damai; melarang perbudakan, penahanan, dan pemenjaraan tanpa proses peradilan yang jujur dan adil, serta melanggar hak pribadi seseorang. 

Jadi konsep HAM berlandaskan atas kebebasan dan manfaat. Hal ini menjadikan banyak tindakan menyimpang tetap dibenarkan dengan beralasan HAM. Seperti aktivitas pacaran dan zina merupakan hak asasi. Sehingga selama tidak ada paksaan, maka tidak ada hak yang dilanggar. 

Bahkan, dalam Permendikbud Ristek PPKS, selama ada sexual consent (persetujuan untuk melakukan atau tidak melakukan hubungan seksual). Menjadi tidak masalah seseorang melakukan hubungan seksual di lingkungan kampus dengan siapapun. 

Atas prinsip HAM yang harus dihormati menjadikan generasi muda tidak bergerak dan melawan meski berbagai kemaksiatan berada di depan matanya. Jika tidak mau terlibat, maka harus membiarkan yang lain bebas melakukan kemaksiatan karena itu Hak Asasi mereka. Akhirnya, aktivitas amar makruf nahi mungkar makin luntur dan hancur karena batasan HAM.