Selain Bung Tomo, Fotografer Muslim & Adik Kandungnya ini Menjadi Pahlawan Dalam Pertempuran 10 November di Surabaya

Selain Bung Tomo, Fotografer Muslim & Adik Kandungnya ini Menjadi Pahlawan Dalam Pertempuran 10 November di Surabaya

Negara Indonesia memperingati tanggal 10 November sebagai hari Pahlawan. Alasan tersebut dipilih karena mengacu dengan peristiwa pertempuran yang terjadi tanggal 10 November 1945 yang terjadi di Surabaya antara pihak pribumi (Indonesia) dengan pihak sekutu.

Dalam website daring Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pahlawan berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani.

Pahlawan sendiri bisa digunakan sebagai julukan yang diperuntukkan bagi seseorang yang telah berjuang baik bagi suatu kelompok, masyarakat, maupun bagi suatu negara. Mereka yang dijuluki pahlawan pasti dikenal sebagai orang memiliki jasa luar biasa, yang mampu memberikan dampak positif di masyarakat.

Setiap kali memperingati hari pahlawan, pasti ingatan kita akan disajikan dengan gagahnya foto Bung Tomo yang tengah menyampaikan pidatonya dengan jari menunjuk. Selain itu ketika membuka media sosial, kita juga akan disajikan dengan gambar bersejarah perobekan bendera Belanda di atas gedung hotel Yamato (sekarang hotel Majapahit.)

Hotel Yamato adalah hotel yang didirikan di awal abad 20, tepatnya di tahun 1910, oleh 2 orang bersaudara dari Armenia yang bernama Sarkies. Mereka memang bertugas sebagai perintis bisnis perhotelan di kawasan ASEAN. Pada masa penjajahan Belanda, hotel ini dinamai hotel Oranje, dan berganti nama sebagai hotel Yamato sejak kolonial Jepang menduduki Indonesia.

Tapi kira-kira apakah Anda tahu, siapa yang mengabadikan foto-foto heroik itu? Mengingat di waktu itu kamera merupakan barang yang super mahal, selain itu bagaimana bisa dia memotret kejadian di masa lampau, di mana foto-foto tersebut pada akhirnya menjadi bukti akan rangkaian peristiwa bersejarah di Indonesia.

Namanya adalah Abdul Wahab Saleh, seorang pria kelahiran Surabaya tanggal 23 April tahun 1923. Abdul Wahab Saleh bukanlah orang yang dari awal berkecimpung di dunia fotografer. Dia dulunya adalah seorang guru sekolah, di SMP Muhammadiyah.

Ketika tahun 1943, karirnya sebagai fotografer bermula. Saat itu pria yang berkawan dekat dengan Bung Tomo ini bekerja sebagai fotografer kantor berita Domei (sekarang Antara). Sebagai info, Domei merupakan kantor berita milik kekaisaran Jepang, dan di waktu itu juga ada kantor berita Domei cabang Surabaya yang dikelola di bawah kolonial Jepang.

Melansir sumber dari salah satu media di Surabaya menjelaskan tentang wawancara yang pernah dilakukan Badan Arsip Jatim kepada seorang wanita bernama Siti Hanifah tahun 2004, dia merupakan adik kandung dari Abdul Wahab Saleh.

Dalam laman media itu tertulis mengenai perjuangan yang dilakukan oleh Siti Hanifah membawa roll film dibalik kendit (ikat pinggang berbahan kain yang digunakan di tubuh perempuan).

Tindakan itu tentunya beresiko, karna secara aktif tentara sekutu melakukan pengawasan dan pelacakan terhadap warga pribumi di Surabaya, dengan penuh perjuangan, dan waktu tempuh perjalanan yang tidak sebentar, dia akhirnya bisa sampai Malang dengan selamat.

Sesampainya di Malang, Hanifah segera memberikan roll film itu ke kakak kandungnya Abdul Wahab Saleh yang memang lebih dulu mengungsi ke Malang sejak meletusnya peperangan tanggal 10 November.

Abdul Wahab Saleh pernah ditangkap oleh pihak kolonial karena aksinya dalam mengabadikan banyak peristiwa bersejarah pejuang Indonesia, meskipun begitu pada akhirnya dia tetap dibebaskan oleh mereka, dan memutuskan keluar dari Surabaya.

Di lain sumber tertulis selain berjasa sebagai arsip bukti kemerdekaan & perjuangan para pahlawan di Surabaya, karya-karya darinya juga berkontribusi terhadap sepak terjang, serta perkembangan dunia fotografi di Indonesia. Banyak dari karya ciptaanya yang diabadikan di Perum Produksi Film Negara (PFN).