Rusia Melarang, Apa Kabar Indonesia?

Rusia Melarang, Apa Kabar Indonesia?

Rusia Melarang LGBT, Apa Kabar Indonesia?

Kabar cukup mengejutkan namun menggembirakan datang dari Rusia.
Negara yang dulunya bernama Uni Soviet itu baru-baru ini mengeluarkan keputusan yang tidak main-main, bahkan cukup menghebohkan di kalangan internasional.
Majelis Rendah Parlemen Rusia pada Kamis (24/11/2022) meloloskan rancangan undang-undang (RUU) yang melarang promosi LGBT kepada semua orang dari semua usia. Anggota parlemen mengatakan mereka membela nilai-nilai tradisional Rusia, melawan Barat yang liberal.
Di bawah RUU itu, setiap peristiwa atau tindakan yang dianggap sebagai upaya untuk mempromosikan LGBT, termasuk melalui online, film, buku, iklan, atau di depan umum dapat dikenakan denda yang berat.
Denda bisa mencapai 400.000 rubel (Rp 103 juta) untuk individu dan hingga 5 juta rubel (Rp 1,2 miliar) untuk badan hukum. Sedangkan untuk orang asing dapat menghadapi 15 hari kurungan dan pengusiran dari negara tersebut. (kompas.com, 24/11/2022).

Meskipun RUU tersebut masih perlu ditinjau oleh Majelis Tinggi Parlemen Rusia dan ditandatangani oleh Presiden Rusia Vladimir Putin sebelum diberlakukan, namun langkah tersebut patut diapresiasi.
Sungguh luar biasa langkah yang mereka ambil, mengingat permasalahan terkait LGBT ini adalah isu yang sangat sensitif di dunia barat.

Bukan rahasia bila negara barat penganut liberalisme sangat menjunjung tinggi kebebasan, termasuk kebebasan berperilaku, salah satunya adalah kebebasan seksual yang  menyimpang.
Sebenarnya Rusia bukan negara pertama yang mengeluarkan keputusan terkait pelarangan LGBT. Sebelumnya ada Brunei Darussalam yang mengeluarkan aturan hukum cambuk hingga rajam sampai mati terhadap kaum LGBT yang
mulai diterapkan sejak 3 April 2019  dan langsung mendapat kecaman dan kritik tajam dari dunia barat.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa - Bangsa (PBB), Antonio Guterres, menentang pemberlakuan hukuman itu. Dia mengklaim aturan itu sama saja melanggar hak asasi manusia. Sejumlah komunitas dan tokoh hingga selebriti pendukung LGBT turut mengecam langkah Brunei tersebut. Aktor senior Hollywood George Clooney, pembawa acara Ellen Degeneress, hingga musisi Elton John ikut mengecam hukuman mati terhadap kaum penyuka sesama jenis itu.
Clooney dan John bahkan menyerukan memboikot hotel-hotel milik pemerintah Brunei yang beroperasi di Negeri Paman Sam dan negara Barat lainnya. (cnnindonesia.com, 4/4/
2019)

Setelah itu tidak ada negara lain yang berani mengikuti jejak Brunei Darussalam untuk menolak LGBT, termasuk Indonesia, yang sampai saat ini masih bergelar negeri muslim terbesar dunia.

Sejauh ini, sistem hukum di Indonesia tidak mengatur hukuman pidana terkait LGBT secara spesifik. Dalam Kitab UU Hukum Pidana (KUHP) yang berlaku kini, seseorang yang mengidentifikasikan diri sebagai LGBT tidak dapat dijerat aturan hukum. KUHP hanya mengatur pidana bagi pelaku kekerasan seksual.

Sangat disayangkan kenapa negara kita tidak bisa bersikap dengan tegas menolak terkait hal ini. Padahal kerusakan yang ditimbulkan penyimpangan seksual ini sangat besar dan nyata di masyarakat.

Bagi seorang muslim, gaya hidup LGBT tidak bisa diterima oleh Islam dan bertentangan dengan syariat.

Terkait LGBT, secara khusus Allah Swt. berfirman, “Dan Luth ketika berkata kepada kaumnya: mengapa kalian mengerjakan perbuatan fahisyah (keji) yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kalian. Sesungguhnya kalian mendatangi laki-laki untuk melepaskan syahwat, bukan kepada wanita; malah kalian ini kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan, ‘Usirlah mereka dari kotamu ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri.’ Kemudian Kami selamatkan ia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya, ia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” (QS Al-A’raf: 80—84).

Promosi gaya hidup LGBT adalah bagian dari penjajahan yang harus dilawan dan wajib ditolak. Masyarakat akan semakin menuju kehancuran bila gaya hidup ini dilegalkan dan disebarluaskan atas nama hak asasi manusia.

Saatnya para pemuda muslim membina dirinya dengan pengetahuan Islam dan menyiapkan dirinya untuk bertarung melawan semua ide-ide yang membahayakan iman.