Ramai-Ramah Beralih ke Kendaraan Listrik, Mengapa?

Motor listrik di sini, mobil listrik di sana, di mana-mana ada kendaraan listrik hilir-mudik di antara kendaraan-kendaraan berbahan bakar minyak. Mengapa makin hari orang-orang (termasuk pemerintah) makin beramai-ramai mengendarai kendaraan listrik, ya?

Ramai-Ramah Beralih ke Kendaraan Listrik, Mengapa?
Ilustrasi mobil listrik oleh Pexels.

Malam itu, sekitar pukul 08.30, saya dan adik saya sedang dalam perjalanan pulang setelah berkunjung ke rumah saudara di luar kota.

Kebetulan tempat tinggal kami berada di daerah pinggiran, di mana masyarakatnya berhenti beraktivitas di luar rumah begitu azan isya berkumandang, kecuali untuk keperluan-keperluan tertentu.

Alhasil, suasana di sepanjang perjalanan begitu sepi kala itu, sampai kami dikejutkan oleh sesuatu yang sekonyong-konyong melintas di sebelah kami tanpa suara.

Kaget, adik saya sontak mengerem mendadak. Walaupun saya skeptis besar soal keberadaan makhluk halus, saya sempat mengira malam itu jadi persinggungan pertama saya dengan mereka.

Tetapi, setelah membujuk adik saya yang setengah ketakutan untuk lekas mengejar, usut punya usut, apa yang saya sangka makhluk gaib tadi adalah driver GrabBike yang mengebut gesit dengan motor listriknya.

Sejak hari itu, saya makin sering berpapasan dengan kendaraan hijau berbadan ramping dan minim bunyi itu, entah itu di dalam kampung atau di jalan raya.

Rupa-rupanya Grab sudah bekerja sama dengan Viar Motor Indonesia, produsen kendaraan listrik (electric vehicle atau EV) asal Semarang, untuk meluncurkan motor listrik sejak kuartal ketiga 2021.

Perusahaan ride-hailing asal Malaysia itu bukan satu-satunya yang mengadopsi teknologi kendaraan listrik di Indonesia. SiCepat Ekspres, penyedia jasa pengiriman barang, juga membeli motor listrik dalam jumlah besar-besaran pada Desember 2021 sebagai kendaraan operasional.

Sementara itu, pemerintah sendiri telah menargetkan pengadaan 2 juta unit EV di dalam negeri dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Perkembangan-perkembangan ini semakin meyakinkan saya jika peralihan ke kendaraan listrik sedang happening, lagi in, atau marak di Indonesia.

Tapi kenapa?

Memangnya ada yang salah dengan motor atau mobil yang selama ini kita gunakan?

Ya, ada, dan menurut sejumlah pakar, kita semestinya sudah berhenti mengendarai, lebih-lebih lagi memproduksi mereka, sejak puluhan dekade lalu.

Sayangnya, kebanyakan orang (termasuk saya) tidak menyadari betapa berbahayanya kendaraan yang kita tunggangi setiap hari bagi masa depan planet kita tercinta.

Kesadaran itu barulah timbul ketika bencana alam semakin santer diberitakan dalam beberapa hari terakhir.

Tunggu, tunggu, apa kaitannya antara kendaraan berbahan bakar minyak seperti yang kita gunakan sekarang dengan bencana alam?

Mayoritas ilmuwan kompak sepakat, frekuensi terjadinya bencana alam selama 50 tahun terakhir melonjak gara-gara perubahan iklim.

Nah, yang mendorong perubahan iklim sendiri antara lain pembakaran bahan bakar fosil dari bermacam-macam kegiatan manusia yang pada akhirnya menimbulkan gas rumah kaca.

Di Indonesia sendiri, transportasi darat menyumbangkan emisi tertinggi menurut laporan Institute for Essential Services Reform (IESR) pada Maret 2020.

Lantas, apakah kendaraan listrik dapat memperlambat—syukur-syukur menyetop—laju perubahan iklim?

Tidak juga, tetapi dari segi emisi gas buangnya, kendaraan listrik dinilai lebih baik daripada kendaraan berbahan bakar minyak.

Begini, mobil dan motor yang kita kendarai saat ini mengandalkan mesin pembakaran dalam (internal combustion engine atau ICE) untuk mengubah bahan bakar menjadi energi, yang mula-mula ditemukan pada abad ke-18.

Sangat tua, ya? Saya sendiri lebih suka menyebutnya kuno.

Kuno, sebab selagi zaman terus berkembang, kendaraan-kendaraan kita masih saja dipasangi dengan temuan berumur lebih dari 200 tahun.

Kembali ke topik utama, dalam mengubah bahan bakar menjadi energi, kendaraan kita menghasilkan bermacam-macam unsur. Yang paling kasat mata adalah asap kehitaman yang mengepul dari knalpot, yang sejatinya merupakan campuran dari gas karbon monoksida dan partikel-partikel seperti debu dan jelaga.

Unsur lainnya adalah sulfur dioksida, nitrogen oksida, karbon dioksida, metana, dan sejumlah senyawa terhalogenasi, yang mana semua ini menyebabkan pemanasan global.

Karena suhu bumi semakin panas, dan periodenya berlangsung lebih lama, bencana-bencana alam pun lebih sering terjadi, seperti kekeringan di Nusa Tenggara dan Maluku, hujan deras di Jawa, dan badai dahsyat di Sulawesi dan Sumatera.

Jadi, apakah dengan berganti ke kendaraan listrik dampak-dampak ini dapat dihindari?

Kendaraan listrik dinilai lebih “bersih” daripada kendaraan berbahan bakar minyak, tetapi bukan berarti tidak mengeluarkan emisi sama sekali. Gas buang yang dihasilkan tetap ada, namun jumlahnya tidak sebesar pada kendaraan berbahan bakar minyak.

Untuk per satu kilometer, mobil listrik menghasilkan sekitar 120 gram karbon dioksida, sedangkan pada mobil berbahan bakar minyak jumlahnya dua kali lipat lebih banyak, atau sekitar 270 gram.

Di tahun 2021 sendiri, contohnya, emisi karbon Indonesia berada di angka yang fantastis, yakni 222,2 juta ton. Namun, jika kita mulai mengendarai mobil atau motor listrik sedari sekarang, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memprediksi kita dapat memangkasnya hingga 29% pada 2030.

Kelihatannya angka yang kecil, ya? Namun, dalam kasus perubahan iklim, sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali. Jika negara-negara di seluruh dunia ikut turun tangan, bukan tidak mungkin angka yang didapat lebih besar.

Dan, sekalipun ada beberapa isu terkait kendaraan listrik yang masih perlu pengkajian lebih lanjut—ketersediaan baterai, stasiun pengisian, dan durasi pengisian—permasalahan tersebut dapat diselesaikan dengan semakin banyaknya penelitian-penelitian yang dilakukan di masa depan.

Jadi, ya, kendaraan listrik menawarkan solusi yang terbilang mujarab dalam mengatasi perubahan iklim, di mana pemanfaatan mobil dan motor listrik secara masif berarti emisi yang lebih rendah.

Tetapi sebelum itu, ada sederet pekerjaan rumah yang pemerintah mesti selesaikan terlebih dulu sebelum mewujudkan cita-cita mulia tersebut.

Contohnya, melaksanakan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya mengadopsi inovasi ini, membangun stasiun pengisian kendaraan listrik hingga ke pelosok, dan merancang sistem pembuangan atau daur ulang baterai yang terpadu.

Dengan begitu, target pemerintah dapat benar-benar dicapai, alih-alih menjadi ambisi muluk lainnya yang justru menimbulkan perkara baru.