Perbedaan Otak Orang Suka Selingkuh Dengan Yang Setia Berdasarkan Sains!

Perselingkuhan bukanlah suatu hal baru dalam pernikahan. Alasan yang menyebabkannya pun bisa bermacam - macam, baik karena perilaku maupun kesehatan otak.

Perbedaan Otak Orang Suka Selingkuh Dengan Yang Setia Berdasarkan Sains!
Perbedaan Otak Orang Suka Selingkuh

Perselingkuhan bukanlah suatu hal baru dalam pernikahan. Alasan yang menyebabkannya pun bisa bermacam - macam. Adanya istilah wanita atau pria idaman lain juga sudah sering didengar oleh masyarakat luas.

Isu perselingkuhan, juga sedang marak diperbincangkan belakangan ini. Tidak hanya dapat menimpa orang terkenal, tapi juga orang biasa.

Namun, belum banyak orang yang mengetahui, bahwa seseorang selingkuh tidak hanya karena faktor fisik atau kekayaan semata. Karena nyatanya, ada perbedaan otak orang suka selingkuh dengan yang setia. Terutama, jika dilihat dari kacamata sains.

Kondisi mental dan kesehatan otak, ternyata bisa menjadi pemicu orang suka selingkuh. Pernyataan ini, berdasarkan keterangan dari Coach Pris, CEO Stress Management Indonesia, saat memperingati hari kesehatan mental dunia.

Perbedaan Otak Orang Suka Selingkuh

Berikut, adalah perbedaan otak orang suka selingkuh dan penyebabnya, berdasarkan neuroscience.

1. Euforia Cinta Yang Berlebihan

Setiap orang pasti pernah jatuh cinta dalam hidupnya. Pengalaman tersebut, akan membawa euforia tersendiri bagi yang mengalaminya. Terlebih lagi, jika rasa kasmaran itu mendapatkan balasan yang sama dari sang pasangan. 

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para ahli saraf, rasa kasmaran itu tidak akan bertahan lama. Antara 6 bulan - 2 tahun, perasaan tersebut bisa berubah menjadi cinta dan komitmen untuk bersatu, atau berpisah kemudian melepaskan diri.

Banyak terapis berpendapat, bahwa orang suka selingkuh, karena berkurangnya intensitas rasa sayang serta euforia cinta pada pasangannya. 

Berkurangnya euforia tersebut, bisa memicu seseorang untuk suka selingkuh, hanya karena ingin memunculkan kembali intensitas cinta nya yang mulai memudar.

Kebutuhan akan euforia cinta yang berlebihan, membuat seseorang akan terus menjadi tidak setia terhadap pasangannya.

2. Sirkuit Kontrol Diri Yang Menghilang

Sirkuit kontrol diri adalah suatu sistem, yang berfungsi untuk menyeimbangkan otak limbik dan korteks prefrontal (PFC). Otak limbik sendiri, merupakan bagian yang dapat memotivasi manusia, untuk mencari dan melakukan aktivitas menyenangkan. 

Sedangkan PFC, yaitu bagian otak yang membuat manusia berpikir ulang, sebelum melakukan hal beresiko seperti perselingkuhan.

Apabila sirkuit kontrol diri bekerja dengan seimbang, maka kontrol impuls yang dimiliki dapat menghentikan manusia dari perbuatan negatif.

Tetapi jika aktivitas PFC nya rendah, makan akan terjadi ketidakseimbangan, yang membuat manusia menyerah pada keinginan impulsifnya. Lebih buruknya lagi, semua hal tersebut dilakukan tanpa mempertimbangkan konsekuensinya.

Suatu studi pencitraan otak mengatakan, bahwa manusia dengan aktivitas PFC rendah, memiliki resiko lebih besar terhadap perceraian. 

3. Testosteron Yang Tinggi

Suatu studi mengatakan, bahwa pria dengan testosteron tinggi memiliki kecenderungan lebih suka selingkuh daripada yang kadarnya lebih rendah.

Testosteron bisa mempengaruhi mood, motivasi, hingga seksualitas. Dengan kadar yang tinggi, testosteron dapat menurunkan empati, dan membuat hawa nafsu menjadi lebih besar. Hal tersebut, tentunya dapat menjadi pemicu kebiasaan suka selingkuh dan tidak setia.

4. Perbedaan Otak Orang Suka Selingkuh Dengan Yang Setia

Studi pencitraan otak menyatakan, bahwa otak orang suka selingkuh berbeda dengan yang setia. Saat dua orang anak manusia melihat penggambaran yang romantis, umumnya mereka akan saling berpegangan tangan atau saling bertatapan.

Reaksi yang didapat dari kedua orang tersebut adalah, otak orang yang setia memperlihatkan lebih banyak aktivitas saat melihat penggambaran tersebut. Sedangkan otak orang yang suka selingkuh terlihat lebih pasif.

Meskipun tetap ada faktor permasalahan mental serta kesehatan otak yang dapat memicu orang menjadi suka selingkuh, namun bisa dilakukan pencegahan. Sehingga, hal tersebut tidak sampai terjadi. 

Diantaranya, yaitu saling mengenal segala sesuatunya tentang pasangan masing - masing sebelum menikah. Sehingga, setiap pasangan dapat mengambil tindakan yang tepat untuk memperbaiki situasi hubungan mereka. 

Coach Pris juga mempercayai, bahwa pasangan sehat dapat membentuk keluarga yang sehat juga. Hal tersebut, tentunya akan mempengaruhi lingkungan luar yang ada disekitar keluarga agar ikut menjadi sehat. 

Sedangkan untuk mencapai revolusi mental secara umum, bisa memulainya dengan cara memperbaiki kondisi unit terkecil di masyarakat, yaitu keluarga.

Demikianlah, ulasan mengenai perbedaan otak orang suka selingkuh dengan yang setia berdasarkan sains! Semoga dapat bermanfaat, dan menambah pengetahuan tentang dunia kesehatan secara umum.