Niat, Doa, dan Tata Cara Memandikan Jenazah yang Sempurna Dalam Islam

Begini Niat, Doa dan Tata Cara Memandikan Jenazah Dalam Islam, Simak Selengkapnya di bawah

Niat, Doa, dan Tata Cara Memandikan Jenazah yang Sempurna Dalam Islam
Ilustrasi niat, doa, dan tata cara memandikan jenazah

Niat, doa dan tata cara memandiakan jenazah - Dalam Agama Islam, ketika seseorang meniggal dunia, hukumnya fardhu kifayah bagi muslim lainnya untuk mengurus jenazah orang tersebut. Salah satu bagian dari mengurus jenazah yaitu adalah memandikan jenazah.

Dikutip dari buku Bimbingan Praktis Fiqih Ibadah oleh K.H Syarif Sukandi, para ulama menyepakati perihal memandikan mayat bahwa hukumnya adalah fardhu kifayah, di mana ini adalah tugas kewajiban bersama. Sebelum ada yang memulai mengambil inisiatif, semuanya bertanggung jawab. Landasan dalilnya yaitu hadits Rasulullah SAW dari Ibnu Abbas RA, ia berkata:

 

أَنَّ اَلنَّبِيَّ ‏- صلى الله عليه وسلم ‏-قَالَ فِي اَلَّذِي سَقَطَ عَنْ رَاحِلَتِهِ فَمَاتَ: اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ, وَكَفِّنُوهُ فِي ثَوْبَيْنِ

 

Artinya: 'Bahwasanya Nabi SAW telah bersabda tentang orang yang jatuh dari kendaraannya lalu mati; "Mandikanlah ia dengan air dan daun bidara, dan kafankanlah dengan dua lapis kainnya." (Muttafaq 'Alaih)

 

Syarat memandikan sempurna dalam Islam

Meski demikian, ada syarat-syarat dari jenazah yang dikenai hukum untuk dimandikan. Beberapa syarat yang dimaksud di antaranya yakni:

  • Beragama Islam
  • kafir : mu’ahad, muamman, dzimmiy. Ketiga ini bukanlah orang kafir yang memerangi kaum muslimin (boleh dimandikan, haram disalatkan)
  • Ada tubuhnya meskipun sedikit
  • Tidak meninggal dalam keadaan syahid, yakni mati dalam peperangan atau membela agama Islam
  • Manusia sempurna, bukan mayat bayi yang keguguran dan lahir tidak bernyawa
  • Tersedia air bersih untuk memandikannya
  • Bila kondisi mayat tidak memungkinkan untuk dimandikan dengan air, maka boleh ditayamumkan

 

Tata cara memandikan jenazah dalam Islam

Adapun tata cara untuk memandikan jenazah juga perlu diperhatikan dengan tepat. Berikut bacaan niat dan doa memandikan jenazah yang benar.

  • Niat dan Doa Memandikan Jenazah

Melansir buku Keutamaan Menjenguk Orang Sakit dan Tata Cara Mengurus Jenazah oleh Husnan M. Thaib, niat memandikan jenazah laki-laki yaitu:

 

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِهَذَا الْمَيِّتِ لِلَّهِ تَعَالَى

 

Nawaytul ghusla lihadza al mayyiti lillahi ta'ala

Artinya: Aku berniat untuk memandikan mayat laki-laki ini karena Allah Ta'ala.

 

Sementara lafaz niat untuk memandikan jenazah perempuan:

 

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِهَذِهِ الْمَيِّتَةِ لِلَّهِ تَعَالَى

 

Nawaytul ghusla lihadzihi al mayyitati lillahi ta'ala

Artinya: Aku berniat untuk memandikan mayat perempuan ini karena Allah Ta'ala.

 

*Adapun sebagian ulama berpendapat, niat dapat di bacakan secara lisan maupun cukup di dalam hati saja serta dapat dilafalkan dalam bahasa selain bahasa arab dan hukumnya sunnah.

 

  • Doa memandikan jenazah

Adapun doa memandikan mayat, Imam Nawawi dalam Al-Adzkan: Buku Induk Doa dan Dzikir menjelaskan bahwa disunnahkan untuk memperbanyak dzikir apa saja serta doa bagi jenazah. Hal ini diperuntukkan bagi orang yang memandikan mayat dan yang berada di dekatnya.

Bisa dengan lafaz doa berikut ini:

 

أَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَلَهُ وَاعْقِبْنِى مِنْهُ عُقْبَى حَسَنَة

 

Allahummaghfir lii wa lahu wa'qibnii minhu uqba hasanatan

 

Artinya: Ya Allah ampunilah bagiku dan bagi mayat dan iringilah kebaikan kepadaku sesudahnya.

 

  • Cara memandikan jenazah dalam Islam
أَقَلُّ الغُسْلِ: تَعْمِيْمُ بَدَنِهِ بِالمَاءِ.
 
"Cara memandikan jenazah minimalnya adalah meratakan air ke seluruh tubuhnya."
 
Maksudnya: Memandikan jenazah minimalnya adalah meratakan seluruh badannya, baik rambut atau kulitnya, dengan air, artinya setelah dihilangkan najis ‘ainiyah yang ada pada mayat. Sedangkan najis hukmiyah yang ada pada mayat, maka cukup dengan sekali aliran air untuk menghilangkan najis dan untuk memandikannya.
 
وأَكْمَلُهُ: أَنْ يَغْسِلَ سَوْأَتَيْهِ، وأَنْ يُزِيْلَ الْقَذَرَ مِنْ أَنْفِهِ، وأَنْ يُوَضِّئَهُ، وأَنْ يَدْلُكَ بِالسِّدْرِ، وأَنْ يَصُبَّ الْمَاءَ عَلَيْهِ ثَلاَثاً.
 
"dan yang sempurna adalah mencuci dua auratnya (qubul dan dubur), menghilangkan kotoran dari hidungnya, mewudhukannya, dimandikan dengan daun bidara (sidr), dan disiram tiga kali dengan air."

Mengutip laman Rumaysho.com dari Kitab Syarah Safinatun-Naja oleh Syaikh DR Amjad Rasyid, berikut ini adalah cara memandikan mayat yang sempurna sehingga terdapat 5 kali basuhan:

  1. Orang yang memandikan mengusap/ mengurut perut mayat dengan tangan kiri dan sedikit ditekan.
  2. Membasuh dubur dan qubulnya disertai najis yang ada di sekitar dubur dan qubul dengan kain lap yang menutupi tangan kirinya.
  3. Menghilangkan kotoran dari hidungnya, begitu pula dari giginya dengan kain lap yang lain.
  4. Mewudhukan mayat dengan menghadirkan niat seperti wudhu orang yang hidup.
  5. Menggosok tubuh dengan sidr (atau semacamnya seperti sabun), dibasuh bagian kepala terlebih dahulu, lalu jenggotnya, lalu bagian depan tubuhnya yang sisi kanan, lalu bagian depan tubuhnya yang sisi kiri, lalu bagian belakang sebelah kanan, lalu bagian belakang sebelah kiri.
  6. Kemudian dihilangkan bekas sidr (sabun) dengan air dari ujung kepala hingga bawah kakinya.
  7. Setelah itu membasuh seluruh tubuhnya tiga kali dengan air murni (maa’ qoroh) dicampuri sedikit kapur barus sebagai suatu hal yang sunnah.
  •  Beberapa sunnah yang dianjurkan saat memandikan jenazah dalam Safinatun Naja:
  1. Memandikan dalam ruangan tersendiri.
  2. Tidak masuk kecuali orang yang memandikan dan orang yang membantunya serta kerabat mayat yaitu ahli waris terdekat.
  3. Memandikan dengan gamis yang basah atau tipis.
  4. Mayat diletakkan di tempat yang cukup tinggi.
  5. Menggunakan air yang tidak panas kecuali untuk suatu keperluan seperti keadaan dingin atau kotor.
  6. Wajahnya ditutup dengan kain.
  7. Orang yang memandikan hendaklah tidak melihat auratnya kecuali sekadar diperlukan. Karena asalnya melihat aurat itu haram.

Menceritakan Kebaikan Jenazah dan Menyembunyikan Aibnya

Menurut Buku Induk Doa dan Dzikir, apabila orang yang memandikan mayat mengetahui hal yang menakjubkan tampak pada diri mayat, seperti wajahnya yang bersinar, atau aroma tubuhnya wangi. Maka orang tersebut boleh menceritakan hal itu kepada orang-orang sekitar.

Namun bila orang itu melihat hal aib pada diri jenazah, misal aromanya bau menyengat, atau rupa dan anggota tubuhnya pula ada yang membusuk. Dilarang baginya untuk membicarakan itu kepada orang lain.

Ulama Syafi'iyah menyatakan demikian dengan berlandaskan hadits Rasulullah dari Ibnu Umar. Rasulullah SAW bersabda:

 

اذْكُرُوا مَحَاسِنَ مَوْتَاكُمْ وَكُفُّوا عَنْ مَسَاوِيهِمْ

 

Artinya: "Ceritakanlah kebaikan-kebaikan orang mati dan sembunyikanlah keburukan-keburukan mereka." (HR Abu Dawud)

 

Dalam riwayat lain dari Abu Rafi, Rasulullah juga menjelaskan:

 

مَنْ غَسَّلَ مَيِّتاً فَكَتَمَ عَلَيْهِ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ أَرْبَعِيْنَ مَرَّةً

 

 

Artinya: "Barang siapa memandikan mayat, lalu menyembunyikan apa yang terjadi padanya, maka Allah mengampuninya sebanyak empat puluh kali." (HR Hakim)

 

Demikian Niat, Doa dan tata cara memandikan jenazah sesuai sunnah dan Al Quran dalam Islam, semoga kelak kita di matikan dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin.

Semoga bermanfaat, Barakallahu fiikum.