Momen Hari Guru, Menakar Ulang Kurikulum Merdeka

Tanggal 25 November dalam setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Tahun ini, Hari Guru Nasional 2022 jatuh pada hari ini, Jumat 25 November 2022. Dengan tema "Berinovasi Mendidik Generasi".

Momen Hari Guru, Menakar Ulang Kurikulum Merdeka

Tanggal 25 November dalam setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Tahun ini, Hari Guru Nasional 2022 jatuh pada hari ini, Jumat 25 November 2022. Dengan tema "Berinovasi Mendidik Generasi".

Membahas momentum hari guru tentu erat kaitannya dengan ragam persoalan mengenai program pendidikan. Salah satunya adalah program Kurikulum Merdeka yang dalam konsep dan penerapannya menuai polemik di tengah masyarakat. 

Kurikulum yang diluncurkan pada 11/2/2022 merupakan kebijakan dari Merdeka Belajar untuk episode ke-15. Guna memudahkan dalam implementasinya diluncurkanlah aplikasi pembelajaran bagi para guru yakni Platform Merdeka Mengajar.

Kurikulum Merdeka sebelumnya dikenal dengan Kurikulum Prototipe. Kurikulum ini diadopsi dari penyederhanaan kurikulum saat masa pandemi yaitu Kurikulum Darurat. Tujuannya untuk memitigasi ketertinggalan pembelajaran sewaktu masa pandemi.

Kurikulum tersebut dinilai memiliki keunggulan Diantaranya, lebih sederhana dan mendalam, lebih merdeka dan lebih relevan serta interaktif. Sehingga berbagai kalangan pendidikan pun menyambut dengan antusias, terutama para guru yang merasa tidak lagi dibebani materi ajar yang padat sebagaimana pada Kurikulum 2013.

Kurikulum yang Disederhanakan

Penyederhanaan kurikulum jadi pilihan kebijakan. Akibat pandemi Covid-19 yang berdampak serius pada kualitas pembelajaran. Apalagi keberadaan kurikulum 2013 dinilai sangat memberatkan membuat pembelajaran daring tidak efektif.

Untuk itulah, disusun Kurikulum Merdeka dengan empat arah, yaitu:

● Pertama, dengan struktur kurikulum yang lebih fleksibel, karena target jam pelajaran untuk satu tahun, bukan per minggu seperti yang sebelumnya berjalan. 

● Kedua, fokusnya pada materi esensial, tidak terlalu padat seperti sebelumnya. 

● Ketiga, diberikan kebebasan dalam menggunakan perangkat ajar yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik. 

● Keempat, terdapat aplikasi untuk referensi guru dalam mengembangkan praktik mengajar.

Dalam pelaksanaannya terdapat fleksibilitas dimana pihak sekolah bisa mengimplementasikan Kurikulum Merdeka dengan bertahap sesuai atas kesiapan masing-masing. 

Ada tiga pilihan yang bisa diputuskan satuan pendidikan, yaitu: 

● Pertama, menerapkan beberapa bagian dan prinsip kurikulum merdeka tanpa harus mengganti kurikulum yang sedang diterapkan, 

● Kedua, menerapkan Kurikulum Merdeka dengan menggunakan perangkat ajar yang sudah ada

● Ketiga, menerapkan Kurikulum Merdeka dengan mengembangkan sendiri terkait berbagai perangkat ajar yang akan digunakan. 

Penyederhanaan kurikulum juga fleksibilitas dalam penerapannya menjadi hal paling menonjol membuatnya paling mudah untuk diterima oleh banyak kalangan. Namun, nyatanya terdapat beberapa hal yang perlu untuk dikritisi dari Kurikulum Merdeka ini.

Merdeka sama dengan Bebas?

Ada beberapa celah permasalahan yang kemudian bisa muncul dari Kurikulum ini.

● Pertama, tidak ada keseragaman dalam menggunakan Kurikulum Merdeka (setidaknya sampai 2024) justru berpeluang memunculkan perbedaan dalam kualitas dari hasil pembelajaran. Perbedaan tersebut misalnya, sekolah yang menggunakan Kurikulum Merdeka akan dianggap sebagai sekolah maju atau unggulan dalam pandangan masyarakat. Lantas bagaimana dengan nasib sekolah yang belum bisa menerapkan kurikulum merdeka? 

● Kedua, kebebasan dengan tumpuan dalam membangun minat siswa juga bisa berpotensi masuknya pembelajaran unfaedah bagi para siswa. Contoh, hanya karena banyaknya siswa yang berminat pada bidang esport atau yang sejenisnya, membuat sekolah mengadopsi pembelajaran ekstrakurikuler esport atau yang sejenis lainnya. Tentu esport tidak layak untuk masuk kurikulum pendidikan, apalagi dalam jenjang sekolah menengah.

● Ketiga, kebebasan yang memberikan fleksibilitas pada guru untuk menentukan metode pembelajaran juga bisa menjadi peluang masalah. Dalam kondisi banyaknya problem guru, seperti guru honorer yang bergaji Rp 300 ribu sebulan, bahkan ada yang harus tinggal di lingkungan sekolah, di bagian toilet, dikutip dari detikcom, 24 November 2022. Hal itu tidak serta-merta bisa memudahkan para guru mampu mengikuti perkembangan belajar siswa. 

Adanya bekal platform atau aplikasi Merdeka Mengajar yang disediakan untuk guru belum tentu optimal. Di tengah perbedaan dalam pemenuhan sarana atau perangkat mengajar juga belajar bagi para guru, terdapatnya aplikasi tidak otomatis bisa berguna. 

Bagi negara yang belum mampu dalam pengelolaan sarana teknologi secara baik menjadi ironi hingga kesangsian, benarkah bisa memberi solusi? Atau hanya menjadi pangsa pasar para gembong kapitalistik?

Bagaimana Masa Depan Pendidikan?

Dalam pemberlakuan Kurikulum Merdeka secara umum tampak jelas masih belum bisa membawa pendidikan menuju tujuan sahih pendidikan. Data mungkin saja terjadi, namun sayangnya itu hanya kemajuan semu yang terjadi dalam proses pendidikan. 

Akan menjadi “PR” besar bagi bangsa ini jika SDM yang lahir dari kurikulum tersebut akhirnya hanya akan memperpanjang usia kapitalisme. Oleh karenanya, mengubah kurikulum saja tidaklah cukup, jika tanpa mengubah asasnya yang sekuler kapitalistik.