Mental Illness Menyerang Generasi Muda, Apa Solusinya dalam Islam?

Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) telah melakukan survei terkait kesehatan mental nasional pertama pada remaja dengan rentang usia 10 – 17 tahun di Indonesia. 

Mental Illness Menyerang Generasi Muda, Apa Solusinya dalam Islam?

Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) telah melakukan survei terkait kesehatan mental nasional pertama pada remaja dengan rentang usia 10 – 17 tahun di Indonesia. 

Hasil survei I-NAMHS menunjukkan satu dari tiga remaja Indonesia mempunyai masalah kesehatan mental. Sedangkan satu dari dua puluh remaja Indonesia memiliki gangguan mental pada 12 bulan terakhir ini. Angka survei tersebut setara dengan 15,5 juta Survei I-NAMHS 2,45 juta remaja. (ugm.co.id, 24/10/2022)

Apa Itu Gangguan Mental (Mental Illness)?

Mental illness (mental disorder) yang disebut juga dengan gangguan mental atau gangguan jiwa ialah suatu kondisi kesehatan yang memengaruhi perasaan, suasana hati, perilaku, pemikiran, atau kombinasi diantaranya. 

Kondisi tersebut bisa terjadi hanya sesekali, namun jika kondisi telah kronis bisa berlangsung dalam waktu yang lama. Gangguan jiwa ini juga bisa ringan sampai dengan berat atau parah. Hal itu tentu akan memengaruhi kemampuan seseorang dalam menjalani kehidupannya. Seperti saat melakukan aktivitas di ranah sosial, dalam pekerjaan, sampai saat menjalani hubungan dengan keluarga.

Jika kondisi seseorang yang terkena mental illness sangat buruk, untuk menangani kondisinya perlu mendapat perawatan intensif di rumah sakit. Seringnya, jika kondisi terlampau parah bisa memicu hasrat untuk menyakiti diri sendiri hingga dapat mengakhiri hidupnya.

Seberapa Seriuskah Kondisi Mental Illness Ini?

Menurut World Health Organization (WHO), Mental illness menjadi kondisi yang umum terjadi pada siapapun saat ini. Bahkan satu dari lima anak serta remaja di dunia memiliki gangguan mental.

Sedangkan pada orang dewasa, kondisi ini telah memengaruhi satu dari empat orang di dunia. Usia rawan munculnya gangguan mental yang kerap terjadi pada remaja adalah di bawah usia 14 tahun.

Gangguan mental (mental illness) telah menjadi masalah yang sangat serius. Terdapat sejumlah faktor yang dapat melatarbelakangi tingginya angka remaja yang mengalami gangguan jiwa ini. 

Faktor yang Melatarbelakangi Mental Illness

Tentunya selain dari faktor biologis serta genetik, lingkungan juga turut memiliki andil besar. Terlebih lagi, tampak lingkungan sosial saat ini tidak sehat untuk mental para generasi muda.

Jika dikulik lebih dalam, bentukan lingkungan yang tidak sehat ini merupakan dampak dari tatanan kehidupan sekularisme yang menjadi asas hidup di negeri ini. 

Dimana prinsip sekularisme telah menempatkan agama hanya pantas mengurus urusan privat. Sementara panggung besar kehidupan publik yang demikian luas juga kompleks justru menihilkan agama. 

Hal tersebut mengakibatkan, muncul aturan yang harus memisahkan antara agama dari kehidupan (aturan sekuler). Aturan ini dibuat dari hasil kerja otak semata tanpa disertai aspek ruhiyah.

Alhasil mulai dari kebahagiaan dan prestasi individu hingga tolok ukur aturan pendidikan dan keberhasilan pembangunan nasional. Semuanya diukur berdasarkan pada capaian materi tanpa memperhitungkan aspek kejiwaan. 

Sehingga akibatnya, jiwa manusia kering dari nilai spiritual serta menjadi rapuh. Manusia mudah tersulut emosi, marah, bahkan gampang melakukan kekerasan untuk melampiaskan emosinya, bisa dengan menyakiti diri sendiri sampai bunuh diri.

Aturan hidup yang berasal dari sekularisme dan kapitalisme ini juga menyebabkan relasi diantara manusia lebih didominasi dengan persaingan. Mulai dari prestasi sekolah, popularitas, karier, kepemilikan harta, dan berbagai hal lainnya.

Tak hanya itu, akibat penerapan ekonomi kapitalisme juga menjadikan kesulitan ekonomi terjadi secara massal. Sementara, sosial media menderaskan budaya pamer. Ini mengakibatkan terjadinya jurang lebar antara realitas dengan tontonan yang menghasilkan tekanan jiwa.

Cara Islam Menjaga Kesehatan Jiwa

Dalam sistem Islam, realitas rapuhnya jiwa manusia seperti dalam sistem sekuler tidak akan terjadi. Karena seorang muslim yang hakiki pada seluruh sisi hidupnya mempunyai kesadaran akan hubungannya dengan Allah SWT (ar-ruh atau idrak sillah billah). 

Setiap aturan Islam akan terlaksana sesuai kesadaran bagaimana posisi manusia sebagai hamba-Nya. Setiap akan melakukan apapun, seorang muslim akan selalu relate dengan Penciptanya, bahkan ia akan selalu menggantungkan hidupnya hanya pada Allah Taala semata. 

Sikap tersebut akan menjadikan seorang muslim memiliki jiwa yang kuat. Sehingga berbagai masalah yang dihadapinya akan diyakini sebagai qada Allah SWT. yang pasti bisa diselesaikan dengan solusi Islam. 

Demikianlah bangunan kehidupan Islam dibangun berdasar atas akidah Islam yang kukuh. Sehingga akan didapati pada makna kebahagiaan dan kemuliaan seseorang, ukuran keberhasilan dari individu hingga skala pembangunan negara, dan sebagainya diukur berdasarkan rida Allah Taala. 

Hasilnya setiap muslim akan berlomba untuk meraih rida Allah SWT. dengan berupaya taat pada syariat-Nya. Tentu perlombaan ini menyehatkan jiwa karena akan menjadikan manusia dekat dengan Sang Pencipta.

Selain itu, Islam sangat efektif dalam menyelesaikan berbagai persoalan manusia. Sehingga terwujud kesejahteraan yang akan mencegah terjadinya stres. Sungguh, Islam melindungi manusia dari gangguan mental. Walhasil secara komunal akan tercipta kebahagiaan yang hakiki.