Mengapa Perempuan Lebih Rentan jadi Korban KDRT? Ini Penyebabnya

Baru-baru ini jagat entertainment Indonesia digemparkan dengan pemberitaan mengenai selebritas Lesti Kejora yang melaporkan sang suami, Rizky Billar, ke pihak berwajib lantaran tindak KDRT. Sebetulnya, mengapa perempuan lebih rentan jadi korban KDRT?

Mengapa Perempuan Lebih Rentan jadi Korban KDRT? Ini Penyebabnya

Melansir dari Tribunnews, penyanyi kondang Lesti Kejora diketahui mengalami sejumlah cedera serius akibat kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh suaminya, Rizky Billar.

Hingga kini, kasus tersebut masih menjadi perbincangan hangat dari berbagai kalangan. Banyak pihak yang tampaknya menyayangkan terjadinya insiden tersebut, terlebih lantaran kesan harmonis yang pasangan selebritas tersebut pertontonkan di hadapan publik.

Di sisi lain, ada pula yang bertanya-tanya tentang tingginya angka kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Indonesia, terutama yang menyasar perempuan.

Apa yang menimpa Lesti Kejora seolah membuktikan bahwa KDRT dapat menimpa kaum Hawa dari berbagai macam latar belakang, tanpa mengenal status ekonomi dan sosial.

Pengertian Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT)

Menurut CDC, KDRT merujuk pada segala bentuk perbuatan yang melecehkan atau agresi yang terjadi dalam hubungan rumah tangga.

Periode dan intensitas KDRT sendiri bermacam-macam, mulai dari satu episode kekerasan yang dapat berdampak jangka panjang hingga serangkaian episode kronis yang berlangsung selama beberapa tahun.

Di sisi lain, KDRT dapat mencakup salah satu dari beberapa jenis perilaku yang berbeda. Yang dimaksud dengan kekerasan fisik adalah ketika seseorang menyakiti atau mencoba menyakiti pasangannya dengan memukul, menendang, atau menggunakan jenis kekuatan fisik lainnya.

Sementara itu, kekerasan seksual terjadi ketika seseorang memaksa atau mencoba memaksa pasangan untuk mengambil bagian dalam tindakan seksual tanpa sepertujuannya.

KDRT juga dapat berwujud agresi psikologis, di mana seseorang menggunakan komunikasi verbal dan non-verbal dengan maksud untuk menyakiti pasangannya secara mental dan emosional.

Penyebab Kekerasan dalam Rumah Tangga

Mengutip dari WHO, 42% wanita yang merupakan korban KDRT melaporkan cedera sebagai akibat dari tindak kekerasan yang dilakukan pasangan. Di samping itu, KDRT juga dapat menimbulkan sederet masalah lainnya, seperti depresi, gangguan kecemasan, gangguan makan, dan percobaan bunuh diri.

Jadi, mengapa lagi dan lagi perempuan yang menjadi korban terbanyak dari KDRT?

Fenomena ini disebabkan karena bermacam-macam ketidakadilan sosial yang perempuan hadapi, yang faktanya berfrekuensi lebih tinggi daripada apa yang menimpa kaum Adam.

Ketidakadilan sosial ini pulalah yang semakin mempersulit perempuan dalam memperoleh bantuan atau membuat perubahan dalam hubungan rumah tangga mereka.

Stereotip gender memainkan peran besar dalam melanggengkan praktik KDRT terhadap perempuan. Salah satu stereotip yang dikaitkan dengan perempuan dalam konteks pernikahan dan keluarga adalah bahwa perempuan harus mematuhi suami.

Jika seorang istri tidak tunduk pada suami, konstruksi masyarakat tradisional meyakini bahwa perempuan pantas dihukum.

Ekspektasi akan tanggung jawab mengasuh anak juga berperan dalam tingginya tingkat KDRT terhadap perempuan. Wanita yang meninggalkan pekerjaannya untuk merawat anak-anak berarti mengorbankan kemampuannya untuk tetap mandiri secara finansial.

Akibatnya, ia lebih cenderung bergantung pada pasangannya dan kecil kemungkinannya untuk meninggalkan hubungan yang tidak sehat.

Penyebab lainnya mencakup kesenjangan upah antara perempuan dan laki-laki, pernikahan di usia muda, faktor budaya, dan anggapan bahwa KDRT merupakan satu-satunya cara untuk mempertahankan pasangan.

Masyarakat sebagai Kunci Penting Upaya Pencegahan KDRT

Tak bisa dipungkiri bahwa KDRT adalah kasus serius yang, sayangnya, masih mewabah di Indonesia, dan secara khusus memengaruhi kehidupan ribuan wanita Indonesia setiap tahunnya.

Oleh karenanya, mesti ada perubahan untuk menanggulangi wabah tersebut. Kesadaran bersama perlu ditumbuhkan karena, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, KDRT tidak pandang bulu.

Kabar baiknya adalah bahwa semua bentuk kekerasan dapat dicegah.

Alhasil, memobilisasi masyarakat untuk mencegah KDRT penting sifatnya, dengan cara melibatkan masyarakat dalam mendukung, mengembangkan, dan menerapkan strategi preventif yang menargetkan perubahan pada individu serta dalam masyarakat.

Strategi potensial termasuk mendidik masyarakat, mengembangkan program yang memperkuat jaringan sosial, dan mengadvokasi akuntabilitas masyarakat. Dengan demikian, tidak akan ada lagi perempuan yang harus tersakiti lantaran memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupnya bersama sosok yang dicintainya.