KTT G20 di Bali 2022, Benarkah Membawa Manfaat untuk Rakyat Indonesia?

Perhelatan akbar KTT G20 selama setahun yang menjadi puncaknya pada 16 dan 17 November 2022 di Bali di gadang-gadang telah membawa meroketnya perekonomian Indonesia.

KTT G20 di Bali 2022, Benarkah Membawa Manfaat untuk Rakyat Indonesia?

Perhelatan akbar KTT G20 selama setahun yang menjadi puncaknya pada 16 dan 17 November 2022 di Bali di gadang-gadang telah membawa meroketnya perekonomian Indonesia. Meski ada banyak kekhawatiran tidak akan menghasilkan kesepakatan bersama dari para pemimpin dunia.

Seperti yang disampaikan Luhut yang tak ambil pusing. Menurutnya, mencapai komunike atau tidak, yang penting G20 di tangan kepemimpinan Indonesia telah menghasilkan banyak kesepakatan dalam berbagai bidang. Bahkan memberikan dampak ekonomi yang sangat besar untuk RI.

”Kalau pada akhirnya tidak mencapai leaders communique, ya sudah nggak apa-apa. Banyak hal yang sudah kami hasilkan, berbagai macam, dan bahkan kalau dihitung dari sisi ekonomi sudah mencapai miliaran dolar AS,” terang Luhut Pandjaitan selaku ketua Bidang Dukungan Penyelenggaraan Acara G20 2022. (jawapos.com, 13/11/2022)

Luhut juga menjelaskan, banyak negara yang ingin bekerja sama dengan Indonesia. 

”Banyaknya permintaan untuk bilateral dengan Presiden Joko Widodo dan permintaan juga Presiden Joko Widodo untuk mengatur pertemuan-pertemuan bilateral,” terangnya.

Luhut juga membeberkan dampak dari segi ekonomi, secara multiplier effect kontribusi G20 telah mencapai USD 533 juta atau sekitar Rp 7,5 triliun pada produk domestik bruto (PDB) Indonesia tahun 2022. Sebagian besar akan berputar di Bali.

Benarkah Menguntungkan Rakyat Indonesia?

Indonesia saat ini menghadapi persoalan pelik terkait tingginya angka kemiskinan, kerawanan juga konflik sosial dan lain sejenisnya. 

Namun sayangnya keberadaan Indonesia sebagai pemegang event akbar Presidensi G20. Hanya nyaris seperti EO yang cuma bisa melayani kepentingan negara-negara besar saja.

Kalaupun diklaim telah mendapatkan keuntungan yang besar secara ekonomi, keuntungan tersebut hanyalah sesaat dan tidak dirasakan oleh rakyat secara luas.

Faktanya Indonesia hanya menjadi pasar bagi negara-negara maju.

Sasaran KTT G20 

Acara resmi official engagement group G20 ini tidak lepas dari adanya asas kapitalisme yang berorientasi materi. Artinya, keberlangsungan agenda dan target dari KTT G20 ini tidak lebih hanya demi menyelamatkan keberlangsungan ekonomi kapitalisme dunia.

KTT G20 merupakan agenda kapitalisme global yang menjadi sasaran kebijakannya adalah negara-negara berkembang terutama mayoritas muslim, seperti Indonesia, Turki, dan India.

G20 yang telah lahir pasca-krisis ekonomi 1998 tersebut adalah upaya dari negara-negara kapitalis dunia yang dimotori oleh AS untuk melakukan penyelamatan bagi ekonominya. 

Walaupun telah dinarasikan hal itu penting bagi negara-negara berkembang juga bagi yang memiliki pengaruh ekonomi. Sehingga secara sistemis diikutsertakan dalam perundingan perekonomian global tersebut. Pada kenyataannya negara-negara berkembang hanyalah menjadi "sapi perah" bagi mereka.

Negara-negara maju mengatasnamakan investasi demi mengeksploitasi SDA di negeri-negeri muslim dan dengan keberlangsungan liberalisasi di berbagai sektor, menjadikan mereka begitu leluasa dalam menancapkan hegemoninya. 

Dalam semua hal itu, yang mampu melihat serta membaca sepak terjang kapitalisme global dunia, hanyalah Islam politik.

Islam Mengkritisi Kapitalisme 

Islam sebagai agama yang sempurna lagi paripurna, tidak hanya mampu berbicara masalah keakhiratan semata tetapi juga masalah politik duniawi (pengaturan urusan manusia di dunia). 

Untuk itu, gerakan Islam politik inilah yang senantiasa bisa melakukan kritik atas setiap kebijakan kapitalisme yang diterapkan di negeri-negeri muslim. Hal ini jelas membahayakan bagi kepentingan kapitalisme.

Oleh karenanya, program G20 harus lebih spesifik lagi dengan mengarahkan sasarannya kepada Islam politik. Karena Islam politik menjadi ancaman, Islam politik menjadi sumber konflik bagi mereka. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah kapitalismelah perusak peradaban manusia. 

Ibaratnya, kalau saja Islam politik tidak “menyinyiri” kebijakan kapitalisme, sudah pasti umat tidak akan sadar kalau mereka sedang dirampok dan diperdaya oleh kapitalisme. Umat tidak akan bergolak. Perdamaian dunia ala kapitalis pun akan terwujud, itu harapannya.