Krisdayanti Menyoroti Guru Honorer Bergaji Rp300rb Perbulan, dalam Islam Gaji Guru Puluhan Juta!

Krisdayanti Menyoroti Guru Honorer Bergaji Rp300rb Perbulan, dalam Islam Gaji Guru Puluhan Juta!

Krisdayanti, selaku Anggota Komisi IX DPR RI yang membidangi Pendidikan, Kesehatan dan Kesejahteraan, dalam momen hari guru nasional tahun ini, melakukan dialog dengan para guru serta siswa SMPN 25 Jakarta juga sejumlah jajaran Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).


Dalam audiensi itu, KD menyoroti masih ada guru honorer yang mendapat gaji Rp 300 ribu sebulan, bahkan ia tinggal di lingkungan sekolah, di bagian toilet. (detikcom, 24/11/2022)

Guru Honorer Terpinggirkan?

Guru adalah abdi sejati yang selalu sabar tanpa tepi. Mereka rela berkorban waktu, tenaga, dan pikiran demi mencerdaskan anak bangsa. Jasa guru tak pernah lekang oleh waktu.

Guru yang dijuluki pahlawan tanpa tanda jasa ini sangat disayangkan belum juga sejahtera khususnya para guru honorer. Mereka harus banting tulang mengajar dengan gaji minim bahkan banyak kasus yang terungkap sering tertunda pembayarannya berbulan-bulan. 


Padahal kenyataannya, jumlah guru honorer sangat membantu bagi kebutuhan guru di negeri ini. Seperti yang disampaikan oleh Ketua Umum PGRI Unifah Rosyidi, “Honorer itu sangat membantu, sangat. Kalau mau jujur, ambil data Dikbud, 48 persen guru negeri, itu tahun lalu. Dengan posisi pensiunan 50.000 sampai 70.000 setahun bisa dibayangkan. Belum lagi banyak guru untuk jabatan tertentu di daerah. Itu makin mengurangi. Harus ada solusi,“ pungkasnya (Kumparan, 22/1/2020).

Jumlah guru honorer tiap tahunnya selalu meningkat, bersamaan dengan kisah penderitaannya yang tidak pernah sepi dalam pemberitaan di berbagai media. Guru honorer seolah terpinggirkan dengan kelayakan hidup yang tidak diperhatikan. 

Oleh karenanya, perlu dipertanyakan bagaimana paradigma dari sistem pendidikan di negeri ini. Apakah pendidikan dianggap penting dan krusial?

Guru dalam Paradigma Islam

Pendidikan dalam paradigma Islam merupakan bagian dari hak seluruh warga negara yang harus mendapat jaminan dari negara, untuk itulah negara wajib menjamin seluruh kebutuhan masyarakatnya.

Perwujudan dalam menjamin seluruh kebutuhan pendidikan untuk warga negara adalah dengan cara menyediakan pendidikan gratis bagi rakyat, juga menyediakan fasilitas serta infrastruktur pendidikan yang cukup dan memadai seperti misalnya, gedung-gedung sekolah, buku-buku pelajaran, balai-balai penelitian, laboratorium, dan lain sebagainya.

Negara juga berkewajiban untuk menyediakan para tenaga pengajar yang ahli dalam bidangnya, sekaligus memberikan gaji yang cukup bagi guru dan para pegawai yang bekerja di dalam kantor pendidikan. Semua guru yang melayani pendidikan dalam instansi negara statusnya adalah Pegawai Negeri yang mendapatkan gaji dari kas negara.

Gaji Guru di Masa Umar Menggiurkan 

Pada masa kepemimpinan Umar ibn Khattab, beliau sangat antusias dalam pengembagan sumber daya manusia saat itu. Bahkan Umar tak segan-segan memberi hukuman kepada mereka yang enggan menuntut ilmu. Di mata Al Faruq menuntut ilmu itu wajib hukumnya, jadi siapapun yang enggan untuk menuntut ilmu maka tempat mereka adalah penjara.

Tidak hanya itu. Demi kemajuan dalam pendidikan, Umar yang hebat itu tak tanggung-tanggung menggaji para pengajar sebesar 15 dinar dalam setiap bulan. (Buku "Fikih Ekonomi Umar Bin Khattab” karangan Dr. Jaribah bin ahmad Al-Haritsi).

Berapa gaji guru di masa umar jika di rupiahkan?

Dikutip dari laman resmi logammulia.com pada Sabtu 30 Januari 2021, bahwasanya harga koin emas dinar yang diproduksi Antam 91,7 persen dan berat 4,25 gram dijual seharga Rp 3.582.007. Jika dikonversikan gaji guru 15 dinar dengan harga koin emas dinar saat ini Rp 3.582.007 maka besaran gaji guru adalah Rp 53.730.105. Fantastis bukan?

Sedangkan, dikutip dari akurat.co bahwa 1 dinar pada masa Rasulullah nilainya setara dengan Rp2,2 juta.

Jika menggunakan dinar versi Rasulullah SAW, maka gaji guru di masa khalifah Umar Ibn Khattab dengan 15 dinar setara dengan Rp 33 juta perbulan. Sebuah nominal pendapatan guru yang masih sangat menggiurkan jika direalisasikan dalam kehidupan saat ini. 

Guru tidak lagi perlu mencari pekerjaan hanya demi mencukupi kebutuhan hidup harian. Karena guru sudah sejahtera, sehingga bisa fokus dengan idealismenya untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa. 

Ini sangat ironi dan paradoks dengan kenyataan guru saat ini, di Indonesia khususnya dengan gaji guru 300 ribu/bulan.

Membayar guru 15 dinar mungkin berat untuk perekonomian negara saat ini, karena terjebak ilusi sistem kapitalisme. Namun 15 dinar tidaklah sulit jika yang diterapkan negara adalah sistem ekonomi dan politik Islam.