Ketika Sisi Menghibur dari Konten Prank Terlewat Melenceng

Konten prank sudah menjamur di berbagai macam media dengan berbagai macam tingkat kelucuan. Namun, meski jelas-jelas menuai respons negatif, nyatanya masih saja ada kreator konten yang rajin meluncurkan prank tidak pantas. Mengapa?

Ketika Sisi Menghibur dari Konten Prank Terlewat Melenceng

Pasangan selebritas Baim Wong dan Paula Verhoeven kerap mondar-mandir di televisi dan media sosial dalam seminggu terakhir ini . Bukan lantaran aksi dermawan mereka dalam menolong kaum kurang mampu sebagaimana yang selalu mereka tampilkan dalam kebanyakan konten YouTube mereka.

Kali ini, keduanya menyita perhatian banyak pasang mata lantaran membuat konten 'tidak sensitif' yang menyinggung soal kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Yang membuat warganet lebih geleng-geleng kepala adalah peluncuran video tersebut yang berselang tidak terlalu jauh dari mencuatnya kasus KDRT yang tengah menimpa pasangan selebritas lainnya kala itu.

Buntut dari konten "prank" Baim dan Paula yang satu ini terbilang serius. Pasalnya, jika di video-video 'bermasalah' sebelumnya Baim dan Paula paling pol berujung pada cecaran netizen, sekarang Baim dan Paula harus siap-siap mendekam di penjara sebagai akibat dari melibatkan pihak berwajib dalam 'guyonan' tersebut. Walaupun sudah meminta maaf melalui unggahan di akun Instagram, nasi sudah menjadi bubur. Laporan yang dibuat terlanjur diproses. Mengutip dari Liputan6, keduanya terancam hukuman penjara hingga 10 tahun. Alamak!

Hemat saya, baik Baim dan Paula barangkali tidak menyangka beginilah ending dari konten yang mereka tujukan sebagai konten informatif plus edukatif. Namun, kalau Anda seperti saya yang sempat menonton videonya sebelum diturunkan, Anda mungkin bertanya-tanya, "Bagian mananya yang berisi informasi penting, apalagi mendidik?"

Saya sepakat dengan warganet lain yang menganggap konten prank Baim dan Paula ini kelewat batas. Alih-alih merasa terhibur usai menonton, setiap detik dari konten tersebut justru membuat saya tidak nyaman. Mulai dari Paula yang mengaku menjadi korban KDRT hingga Baim yang terkekeh menjumpai raut muka kebingungan targetnya. I'm sorry, Baim, but nothing's funny here.

Bukan kali ini saja konten prank membuat saya mempertanyakan apa yang membuat para kreator beranggapan itu adalah ide yang bagus. Saya jadi teringat pada segmen prank di salah satu stasiun radio lokal. Konsep acaranya kurang lebih begini: presenter radio akan menelepon nomor telepon yang disarankan oleh kenalan korban lalu menceritakan kejadian-kejadian fiktif untuk mengerjai target. Salah satu episode yang paling membekas di ingatan saya adalah ketika presenter radio menuduh suami korban telah melakukan penipuan investasi dan menggelapkan uang investor hingga ratusan juta rupiah.

Bahkan, demi meyakinkan korban, penyiar mengikutsertakan rekannya untuk berpura-pura sebagai penanam modal lainnya yang juga kena tipu. Di bawah tekanan radio host yang di sepanjang panggilan berbicara dalam nada tinggi dan membentak-bentak, meminta korban untuk tidak menyembunyikan suaminya yang diduga sudah tidak pulang ke rumah berhari-hari, korban pun akhirnya menangis. Singkat cerita, sang suami sendirilah yang mengajukan kepada pihak radio agar mengerjai istrinya tepat ketika ia melakukan perjalanan bisnis ke luar kota.

Lalu, bagaimana dengan reaksi sang istri? Histeris? Jelas. Marah? Sepertinya lebih tepat kalau dibilang mengamuk. Tetapi itu semua 'kan lelucon semata, jadi korban seharusnya nggak perlulah terlalu berlebihan dalam menyikapi panggilan telepon iseng itu.

Excuse me, but how? Bagaimana bisa para prankster meminta korban mereka untuk tetap chill setelah mengalami serangkaian kejadian yang membuat mereka malu, putus asa, sedih, dan marah demi kepuasan pribadi si pembuat konten? Yang seperti ini, sih, bukan prank lagi namanya, tetatpi gaslighting.

Iya, gaslighting, wong kreator-kreator itu sudah memanipulasi korbannya secara psikologis, mendorong mereka untuk meragukan diri sendiri atau orang lain, bahkan tidak jarang korban sampai mempertanyakan penilaian dan intuisi mereka sendiri. Seperti dalam konten prank Baim dan Paula, misalnya, mereka sudah mencoba mengendalikan polisi yang bertugas dengan memutarbalikkan realitasnya. Bukan tidak mungkin juga jika polisi tersebut sempat berempati pada Paula, iba dengan apa yang menimpanya. Dalam contoh acara radio yang saya ceritakan barusan, korban pun meragukan suaminya, dan dalam kasus terekstrem, bisa jadi penyesalan sempat terlintas dalam pikirannya karena sudah menikahi seorang penipu.

Jika sudah begini, sulit untuk menebak-nebak kepada siapa video-video prank semacam ini ditujukan dan kesenangan apa yang bisa didapat oleh mereka yang menontonnya. Kalau mesti memilih satu kata untuk menggambarkan konten dalam kategori ini, pilihan saya jatuh pada kata 'kejam'. Kejam karena kreator tampaknya kehilangan empatinya dengan tidak memposisikan diri sendiri sebagai calon korban. Juga kejam karena kreator mengeksploitasi emosi orang lain, yang lebih sering daripada tidak dilakukan tanpa seizin yang bersangkutan, demi keuntungan pribadi.

Belajar dari kasus yang menyandung Baim dan Paula, mudah-mudahan kreator konten yang mengandalkan prank sebagai highlight utama dari channel mereka belajar bahwa siapa pun yang terlibat dalam 'skenario hiburan' mereka berhak untuk mengadukan mereka ke pihak berwajib jika sketsa tersebut dirasa merugikan. Dengan begitu, mungkin pada akhirnya kreator konten prank akan menelurkan karya yang benar-benar menghibur. No making other people look stupid, no gaslighting.