KDRT Perusak Kehidupan, Harus Ditutupi atau Dilaporkan?

Kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT bukanlah hal baru. Kasus yang biasanya melibatkan pasutri dan anak di dalam sebuah keluarga ini, ternyata mampu menyeret beragam kalangan.

KDRT Perusak Kehidupan, Harus Ditutupi atau Dilaporkan?

Kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT bukanlah hal baru. Kasus yang biasanya melibatkan pasutri dan anak di dalam sebuah keluarga ini, ternyata mampu menyeret beragam kalangan.

Mulai dari keluarga yang berstatus ekonomi lemah hingga yang kaya raya, dari yang buta aksara sampai orang yang terdidik.

Bahkan mulai dari yang tinggal di desa terpencil hingga yang berada di pusat kota, dari yang tidak tersorot kamera sampai para pesohor negeri yang setiap hari muncul di layar kaca.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) pun tiada henti mengkampanyekan dare to speak up, setidaknya sejak tahun 2020.

Selain mengajak yang menjadi korban, juga siapa saja yang mendengar atau melihat KDRT supaya punya keberanian untuk angkat bicara serta melaporkan. 

Hal itu, disebut sebagai upaya dalam memberikan keadilan bagi korban juga efek jera untuk pelaku KDRT. 

Namun nyatanya kasus KDRT tetap marak terjadi bahkan hingga merenggut nyawa orang yang sebenarnya dikasihi. 

Akhirnya penyesalan pun sudah tiada guna. Tak jarang pelaku berakhir nasibnya dibalik jeruji besi. 

KDRT adalah Perusak Kehidupan 

KDRT merupakan perbuatan yang merusak kehidupan. Saat suami dan istri sudah tidak lagi akur, biasanya keluarga dan anaknya lah yang menjadi korban. 

Bahkan sering terjadi, bukan hanya istri yang mendapat perlakuan buruk dan kasar, tetapi anak juga mengalami KDRT. Hal tersebut berarti sudah merusak kehidupan. 

Imbas KDRT tidak hanya bisa melukai fisik tetapi juga hati. Luka fisik mungkin bisa disembuhkan, tetapi luka yang ada di hati akan sulit untuk sembuh. 

Jika pun hati yang sudah terluka kemudian bisa kembali sembuh, tetapi tak akan bisa kembali seperti sedia kala, seperti ketika belum terluka.

Itulah yang menyebabkan terjadinya trauma. Trauma akibat dari kehidupannya dirusak oleh orang yang seharusnya membangun serta menjaganya.

Padahal, andai kehidupan tidak dirusak, kehidupan akan memberikan hadiahnya. Bukan berdasar kadar diri, tetapi atas kadar kekuatan yang diyakini.

Penyebab Maraknya KDRT 

Mayoritas dari penyebab maraknya KDRT adalah terpicu dari masalah ekonomi, adanya orang ketiga, pengasuhan anak, dan lain sejenisnya. 

Kekerasan yang dilakukan oleh suami bukan semata karena akibat dari pembangkangan yang dilakukan sang istri.

Tetapi bisa jadi disebabkan atas sikap suami yang temperamen akibat terbentuk dari pola hidup dan lingkungan yang salah seperti lingkungan sekuler. 

Perlakuan KDRT juga bisa terjadi dari stres akibat tekanan hidup dan beban kerja berat yang banyak disebabkan oleh lingkungan kapitalistik. 

Juga bisa jadi disebabkan dari tabiat sang istri yang lisan dan pergaulannya kurang terjaga. Karena faktor pergaulan dan lingkungan yang cenderung liberal hingga turut memicu terjadinya KDRT.

Jadi akar masalah KDRT secara hakiki dimungkinkan akibat terpisahnya aturan agama dari kehidupan umat manusia. 

Hal itu berimbas pada hubungan suami istri, yang tidak ada pengaturan sesuai agama. Membuat ketakwaan dan keimanan menjadi lemah sehingga mudah sekali tersulut emosi. 

Dalam Islam KDRT harus Ditindak Tegas

Islam yang menjadi agama bagi mayoritas penduduk negeri ini memiliki ketegasan bagi pelaku KDRT. 

Perlu diketahui bahwa kehidupan suami istri dalam Islam harus berjalan semata di atas syariat Islam. 

Sehingga apabila seorang istri telah melakukan pelanggaran syariat, maka seorang suami sebagai imam yang baik, punya kewajiban menegur istrinya atau mendisiplinkan istri.

Teguran yang dilakukan harus bertahap. Pertama, suami wajib menasihati istri dan anak dengan lemah lembut. 

Kedua, suami mendiamkan istri di tempat tidurnya (hajr). Kalau sampai tahap kedua ini istri masih membangkang, maka ta’dib atau memukul tanpa menyakiti dan tidak menimbulkan bekas luka menjadi jalan yang terakhir.

Syarat dalam melakukan ta’dib ini adalah pertama, memukul tidak boleh pada tempat yang dilarang, seperti wajah. 

Kedua, tidak boleh pada tempat yang membahayakan, seperti pelipis, jantung, perut, serta organ vital lainnya. 

Ketiga, pemukulan juga tidak boleh dilakukan dengan kekuatan penuh sehingga menyakitkan, misalnya yang bisa menimbulkan bekas luka, merusak anggota tubuh, atau pukulan yang mematikan.

Sebagaimana Allah Swt. berfirman, “Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka dari tempat tidur mereka dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.” (QS An-Nisa [4]: 4).

Pukulan yang dimaksud harus merupakan pukulan ringan, yaitu yang tidak membahayakan (menyakitkan). 

Hal itu sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah saw. dalam khotbah ketika Haji Wada. Rasul kala itu bersabda, “Jika mereka melakukan tindakan tersebut (yakni nusyuz), maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak membahayakan (menyakitkan).” (HR Muslim dari jalur Jabir ra.)

Apabila ketiga syarat tersebut dilanggar oleh seorang suami, maka bukan lagi mendisiplinkan istri. Tetapi sudah melakukan tindakan kriminal atau KDRT dan Islam tidak memperbolehkannya (haram). 

Maka Istri atau anak yang menjadi korban diperbolehkan untuk melapor perbuatan suami tersebut kepada pihak berwajib. Srmenta negara harus menetapkan sanksi yang tegas bagi pelaku KDRT.

Jadi jelas terlihat perbedaan antara tindakan mendisiplinkan istri dengan tindakan kriminal, seperti KDRT. Jika ada kasus KDRT speakup-lah, jangan ragu atau takut sebelum korban berakhir fatal hingga nyawa melayang.