Hidup Tanpa Media Sosial? “Bisa Kok…!”

Bisakah kita hidup tanpa media sosial? “Bisa kok..!”. Jawaban ini bisa saja tidak dapat diterima, khususnya bagi mayoritas pecinta media sosial yang fanatik

Hidup Tanpa Media Sosial? “Bisa Kok…!”
Hidup Tanpa Media Sosial

Bisakah kita hidup tanpa media sosial? “Bisa kok..!”. Jawaban ini bisa saja tidak dapat diterima, khususnya bagi mayoritas pecinta media sosial yang fanatik

“It’s possible to live My life without social media”

Sudah cukup lama saya memutuskan untuk meninggalkan media sosial. Bukan karena saya orang yang anti sosial, tetapi lebih kepada rasa tidak nyaman saat mulai kecanduan platform pertemanan ini.

Hingga pada satu titik, dimana saya sudah merasa muak dengan adanya media sosial di hidup saya. Semakin banyaknya konten sampah, hingga ajang flexing tipu - tipu, tidak ada satupun yang memiliki value untuk saya.

Keputusan saya untuk melakukan talak tiga dengan media sosial, alasannya memang lebih bersifat personal. Salah satunya, ketika mental saya hancur saat melihat kehidupan orang lain yang terlihat lebih baik. “Sementara saya, ya… jauhlah dibandingkan mereka”

Kebiasaan overthinking seperti ini, perlahan tapi pasti mulai meracuni akal sehat saya. Daripada bersyukur, kerjaan saya hanya mengeluh terus - terusan. Ujung - ujung nya, saya harus berteman dengan yang namanya depresi.

Kesehatan mental saya yang mulai terganggu, membuat saya menjadi orang yang paling kesepian di dunia ini. Circle saya menjadi semakin kecil, terlebih lagi saat harus putus kontak dengan orang - orang terdekat.

Dengan keyakinan, saya memutuskan bercerai dengan media sosial. Selangkah demi selangkah, saya mulai membangun kembali rasa percaya diri yang pernah hilang karena penyakit pikiran.

Saya pun mulai menemukan kembali sejatinya diri saya, dan mencoba untuk bersyukur dengan semua pencapaian yang ada. Hidup tanpa media sosial, ternyata tidak membuat saya terpuruk, atau mengalami kerugian apapun.

Tanpa media sosial, hidup saya justru terasa lebih menyenangkan. Saya lebih punya banyak waktu untuk menulis, dan menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain. 

Saya juga lebih fokus, terhadap bakat dan kemampuan diri saya sendiri, tanpa perlu membandingkannya dengan kesuksesan orang lain. Dan saya juga menemukan pelajaran, bahwa setiap orang memiliki prosesnya sendiri untuk menjadi sukses.

Namun yang terpenting, saya tetap bisa merasakan jalinan pertemanan, tanpa harus dikontrol oleh robot digital. “Interaksi langsung dengan manusia seutuhnya, ternyata lebih membahagiakan daripada harus melalui media sosial”

“The best part of my life, don’t make it to social media” - *@therendomvibes

Meski begitu, saya masih tetap menggunakan WhatsApp untuk kepentingan pekerjaan. Jika tetap membutuhkan media sosial lainnya atas nama pekerjaan, saya lebih suka menggunakan jasa admin profesional.

Lama menutup diri dari media sosial, tidak membuat saya rindu untuk kembali mengaktifkannya. Apalagi, setelah melihat makin banyak orang toxic, yang merasa bisa bebas berkomentar tanpa perlu memikirkan dampaknya.

Semakin banyak haters, yang semakin happy kalau hidup orang lain susah karena perkataannya. Semakin banyak ujaran kebencian yang dilontarkan hanya untuk menjatuhkan orang lain.

Bagi saya, nggak pentinglah ngikutin trend hanya untuk ngurusin masalah pribadi orang lain. Karena, itu sama halnya dengan menjadi bodoh karena kebodohan orang lain.

Keputusan untuk menjalani hidup tanpa media sosial, kerap kali dipertanyakan oleh banyak orang di sekitar saya. Meski begitu, saya tidak ambil pusing. Jawaban saya kepada mereka sangat sederhana, “no reason and not interested”.

Meski saya bukan pecinta media sosial, tapi saya tetap menghormati orang - orang mencari nafkah melalui platform ini. Mereka adalah pejuang keluarga, yang menghidupi orang tercinta dengan cara halal dan tidak merugikan orang lain.

Saya pun tidak memiliki masalah, dengan siapapun yang menggunakan media sosial untuk mengembangkan tali pertemanan. Selama mereka menggunakannya dengan bijak, dan tidak mencari panggung untuk memulai sensasi maupun konfrontasi.

Beberapa tahun kedepan, semua orang akan berpaling dan kembali melihat ke belakang. Termasuk juga, melihat pengaruh media sosial terhadap kehidupan banyak orang, baik itu yang berakhir dengan kebaikan maupun keburukan.

Sampai tiba masanya, berusahalah untuk mengurangi dampak buruk yang mungkin terjadi, dengan memanfaatkan media sosial untuk hal - hal baik saja.

“You are responsible for everything you post, and everything you post will be a reflection of you” - @Germany Kent

Jadi, kesimpulan akhir dari artikel ini, hidup tanpa media sosial? “Bisa kok…!