Hari-hari yang Paling Dicintai Allah Taala Lebih Tinggi dari Jihad, Hanya 10 Hari dalam Setahun, Apa Saja?

Dalam satu tahun perjalanan umat manusia terdapat hari-hari yang jika seorang muslim mengerjakan amal saleh pada hari tersebut, maka derajatnya naik dan amalnya menjadi amal yang paling dicintai Allah SWT.

Hari-hari yang Paling Dicintai Allah Taala Lebih Tinggi dari Jihad, Hanya 10 Hari dalam Setahun, Apa Saja?

Dalam satu tahun perjalanan umat manusia terdapat hari-hari yang jika seorang muslim mengerjakan amal saleh pada hari tersebut, maka derajatnya naik dan amalnya menjadi amal yang paling dicintai Allah SWT.

Hari tersebut hanya ada di bulan Dzulhijjah. Bulan Dzulhijjah adalah bulan ke-12 atau terakhir dalam kalender tahun Hijriah. Dzulhijjah disebut juga sebagai bulan haji yang merupakan salah satu bulan suci (syahr al haram) di dalam Islam, yaitu selain Dzulqaidah, Muharram, dan Rajab. 

Jika dalam bulan Ramadan ada 10 hari terakhir yang mulia karena di dalamnya terdapat malam lailatul qadar yang dinanti umat. Maka, di bulan Dzulhijjah terdapat 10 hari pertama yang paling utama, saat mengerjakan amal saleh menjadi amal yang dicintai Allah Taala, bahkan melebihi jihad fi sabilillah.

Amalan pada bulan Dzulhijjah telah disebut dalam sebuah hadis dari Ibnu ‘Abbas r.a. bahwa Nabi Swt. bersabda: Tidak ada hari dimana amal shaleh pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu: Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya: Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun.“ (HR Bukhari)

Apa Saja Jenis Amalan Saleh, yang Disyariatkan?

Amalan utama yang disyariatkan untuk dilakukan pada bulan mulia ini adalah berIbadah haji dan umrah. Keutamaannya dijelaskan dalam hadis Nabi Saw, berikut ini:

“Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah Surga.“

Jika seorang muslim belum mampu menunaikannya, maka disyariatkan untuk mengerjakan amal saleh yang pahalanya menyerupai pahala berhaji. Hanya bisa dikerjakan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. 

Namun hal tersebut tidak mengurangi kewajiban berhaji jika telah Allah Swt. mampukan. Karena terdapat aktivitas ibadah yang tidak bisa dikerjakan selain di mekah dan madinah. Seperti salat di masjid Nabawi dan lainnya.

Berikut ini adalah amal saleh yang bisa dikerjakan di rumah saat berada di hari-hari yang dicintai Allah, 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah. 

1. Puasa

Berpuasa selama hari-hari tersebut, atau pada sebagiannya, terutama pada hari Arafah.

Dalam hadis Qudsi, puasa menjadi jenis amalan paling utama yang telah dipilih Allah untuk diri-Nya:

“Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku“.

Sementara Rasulullah Saw. melalui riwayat dari Abu Said Al-Khudri, menjelaskan:

“Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun.“ (Hadits Muttafaqun ‘Alaih)

Sedangkan dalam riwayat Imam Muslim dari Abu Qatadah, Nabi Saw. juga bersabda:

“Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya.”

2. Takbir dan Zikir 

Memperbanyak takbir dan zikir pada hari-hari tersebut.

Seperti yang telah Allah SWT. firmankan dalam QS. Al-Hajj/22 : 28

“…. dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan …”

Para ahli tafsir telah menafsirkan ayat tersebut dengan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Sehingga, para ulama menganjurkan agar memperbanyak zikir berdasar hadis dari Ibnu Umar r.a:

“Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid.“ (HR. Ahmad)

Imam Bukhari menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah r.a. keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut dengan seraya mengumandangkan takbir kemudian orang-orang pun mengikuti takbirnya. 

Ishaq, meriwayatkan dari fuqaha’, tabiin bahwa pada hari-hari tersebut mengucapkan:

"Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Ilallah, wa-Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamdu"

(Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Ilah (Sembahan) Yang Haq selain Allah. Dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah).

Dianjurkan untuk mengeraskan suara saat bertakbir dan tidak dibolehkan mengumandangkan takbir bersama-sama, seperti berkumpul pada suatu majlis dan mengucapkannya dengan satu suara (koor). Karena menurut sunah adalah masing-masing orang bertakbir sendiri-sendiri.

Juga diperbolehkan berzikir dengan yang mudah-mudah. Misalnya takbir, tasbih serta doa lainnya yang disyariatkan.

3. Taubat 

Bertaubat dengan meninggalkan segala kemaksiatan dan dosa. Sehingga akan memperoleh ampunan juga rahmat. Perbuatan maksiat menjadi penyebab jauhnya hamba dari Allah, sedangkan ketaatan penyebab turunnya kasih sayang Allah kepada hambanya.

Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya.” (Hadits Muttafaqun ‘Alaihi)

5. Banyak Beramal Saleh

Banyak melakukan ibadah sunah, seperti salat, sedekah, membaca Al-Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar, jihad dan lain sebagainya. Amalan-amalan tersebut akan dilipat gandakan pahalanya. 

Seluruh amal ibadah bahkan yang tidak utama sekalipun jika dilakukan pada hari itu akan jadi lebih utama serta dicintai Allah daripada amal pada hari lainnya. Sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang amat utama, kecuali jihad orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya.

6. Takbir Mutlak

Disyariatkan pada hari-hari itu takbir mutlak setiap saat, pagi, siang, malam hingga salat Id. Disyariatkan pula takbir muqayyad, yaitu yang dilakukan setiap selesai salat fardu yang dilaksanakan dengan berjemaah.

Untuk selain jemaah haji dimulai dari sejak fajar, hari Arafah, mulai sejak zuhur hari raya kurban sampai pada waktu salat asar pada hari tasyrik.

7. Berkurban 

Menyembelih hewan kurban pada hari raya kurban hingga hari-hari tasyrik. Meskipun ini merupakan amalan sunnah Nabi Ibrahim namun Nabi Saw. gemar melakukannya.

“Berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu.“ (Muttafaqun ‘Alaihi)

8. Dilarang Memotong Rambut dan Kuku Bagi Orang yang akan Berkurban.

Muslim yang akan melaksanakan ibadah menyembelih hewan kurban tidak boleh memotong kuku dan rambutnya. Sebagaimana sabda Nabi Saw. dari Ummu Salamah. 

“Jika kamu melihat hilal bulan Dzulhijjah dan salah seorang diantara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya.“ (HR Muslim).

Larangan tersebut, hanya dikhususkan untuk orang yang berkurban saja, tidak termasuk keluarganya. Kecuali jika masing-masing dari mereka berkurban.

9. Salat Id

Melaksanakan salat Idul Adha dan mendengarkan khutbahnya. Hikmah dari disyariatkannya hari raya ini adalah sebagai bentuk bersyukur dan beramal kebajikan. 

Untuk itu jangan dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan. Juga jangan dijadikan kesempatan untuk bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran. Misalnya dengan nyanyi-nyanyian, mabuk-mabukan dan kemaksiatan lainnya yang menyebabkan terhapusnya amal kebaikan selama sepuluh hari yang sudah dijalankan. 

10. Melaksanakan Perintah Allah dan Menjauhi Larangan-Nya

Selain semua amal saleh yang telah disebutkan di atas. Setiap kaum muslimin harus mengisi hari-hari itu dengan melakukan ketaatan dan menjauhi segala hal yang dilarang, hingga meminimalisir aktivitas mubah dengan mengutamakan melakukan zikir dan syukur kepada Allah SWT. Manfaatkan kesempatan ini yang hanya ada pada 10 hari dalam satu tahun. 

Dengan mengerjakan amal saleh dalam 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, maka amal tersebut akan naik menjadi amal yang paling dicintai Allah Taala bahkan pahalanya lebih tinggi dari jihad juga mendapat ampunan Allah SWT.

Oleh karenanya, penting bagi keluarga muslim untuk membuat kurikulum Bulan Dzulhijjah. Agar bisa meraih cinta Allah Swt yang disertai pahala tak terbatas hingga berbalas surga firdaus.