Hari Anak Sedunia, Sudahkah Anak Terlindungi dan Sejahtera?

Tanggal 20 November, menjadi ajang untuk memperingati Hari Anak Sedunia atau World Children's Day.

Hari Anak Sedunia, Sudahkah Anak Terlindungi dan Sejahtera?

Tanggal 20 November, menjadi ajang untuk memperingati Hari Anak Sedunia atau World Children's Day. Peringatan ini menjadi momentum untuk menyuarakan berbagai isu penting bagi anak-anak dan remaja.

Kali ini, tema Hari Anak Sedunia 2022 mengusung tema "Inclusion, for every child". Tujuannya untuk mengajak seluruh masyarakat di dunia untuk ikut serta dalam peringatan Hari Anak yang diselenggarakan oleh United Nations International Children's Emergency Fund (UNICEF).

UNICEF atau Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa merupakan organisasi dunia yang dibawah asuhan PBB. Organisasi ini mempunyai tugas untuk memenuhi dan melindungi hak anak-anak dan para remaja di seluruh dunia. (detiknews, 20/11/2022)

Dikutip dari laman resmi United Nations, berikut ini adalah Hak Anak yang diadopsi dan disahkan oleh Majelis Umum PBB:

● Setiap anak berhak tumbuh di lingkungan yang aman.

● Setiap anak berhak untuk hidup dan berkembang.

● Setiap anak berhak untuk belajar dan mendapatkan pendidikan yang layak.

● UNICEF berupaya mengurangi angka kemiskinan agar setiap anak mendapatkan kesempatan hidup yang sama.

● UNICEF berupaya memberdayakan anak perempuan dan perempuan serta memastikan partisipasi penuh mereka dalam sistem politik, sosial, dan ekonomi.

● UNICEF berada di lapangan pada sebelum, saat, dan sesudah keadaan darurat untuk menjangkau anak-anak dan keluarga dengan memberikan bantuan penyelamat hidup serta perlindungan jangka panjang.

Bagaimana realitanya, sudahkah hak anak di atas tercapai?

Data survei baru dari UNICEF terdapat 56 persen insiden eksploitasi seksual serta perlakuan yang salah pada anak Indonesia di dunia maya tidak diungkap dan dilaporkan.

Data tersebut didapatkan dari hasil survei rumah tangga terhadap 995 anak dan pengasuhnya, survei kepada tenaga layanan di lapangan, serta wawancara dengan berbagai pihak yang berwenang juga para penyedia layanan dari kalangan pemerintah. 

Fokus penelitiannya pada anak usia 12-17 tahun, yang berlangsung antara bulan November 2020 hingga Februari 2021. Hasil temuan laporan tersebut menyatakan, anak di usia tersebut merupakan pengguna internet yang sangat aktif, 95 persen diantaranya sampai lebih dari dua kali sehari dalam mengakses internet.

Sementara dua persennya (500.000 anak) yang ada di Indonesia, mengatakan pernah jadi korban eksploitasi seksual juga perlakuan yang salah di dunia maya. 

Angka tersebut sangat mungkin bagai fenomena gunung es, jadi kejadian yang ada sebenarnya jauh lebih tinggi. Apalagi mengingat topik ini cukup sensitif juga membuat traumatis bagi anak. Selain itu, laporan ini hanya mencakup insiden dalam satu tahun terakhir.

Fakta Di Lapangan 

Anak kerap jadi korban, diantaranya korban kekerasan seksual, korban dari rapuhnya institusi keluarga, terpapar pergaulan bebas, putus sekolah, sampai pada penyalahgunaan narkoba. 

Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia melainkan di seluruh belahan dunia, inilah potret kelam kehidupan anak di bawah sistem kapitalisme. Meski terdapat PBB hingga UNICEF sebagai sektor khusus dalam penanganan anak sedunia. Nyatanya persoalan anak nyaris tak tertangani dengan baik. Seolah hal itu hanya jargon yang nyaring gaungnya semata.

Padahal anak merupakan permata keluarga. Keberadaan seorang anak di tengah keluarga mampu menghadirkan kehangatan dan juga keceriaan. Sementara pada ruang yang lebih luas, anak merupakan generasi harapan dan penerus bangsa. Di pundak dan tangan merekalah letak estafet keberlangsungan suatu peradaban umat manusia. 

Oleh karenanya, negara punya peran besar dalam menjamin seluruh hak-hak anak. Namun, bagaimana jika negara dan dunia gagal menjamin hal itu? Tentulah dunia anak dan peradaban manusia yang terkena imbasnya.

Perlindungan Anak dalam Perspektif Islam

Dalam Islam 3 pilar kehidupan harus bersinergi dalam upayanya melindungi anak. Keluarga berperan menciptakan kehangatan, dan mendampingi tumbuh kembang anak dengan baik, serta mengenalkan konsep dasar keimanan agar anak tumbuh menjadi hamba Allah yang taat.

Masyarakat menjadi pilar selanjutnya yang harus mendukung perkembangan anak dengan bekerja sama dalam menciptakan lingkungan dan sistem sosial yang sehat juga ramah banget anak. 

Sedangkan, negara punya kewajiban dalam mengadopsi berbagai kebijakan untuk mewujudkan kemaslahatan rakyat. Mulai dari kewajiban dalam memenuhi kebutuhan dasar rakyat hingga memastikan terpenuhinya kebutuhan mereka secara utuh serta menyeluruh, individu per individu.

Bahkan negara juga wajib memperhatikan aspek sosial kemasyarakatan, pergaulan, pendidikan, ekonomi, sampai seluruh aspek kehidupan yang lainnya. Negara punya tugas memberikan jaminan keamanan, juga perlindungan terhadap harta, serta memastikan keselamatan jiwa. Itu semua sebagai langkah nyata dalam melindungi seluruh rakyatnya. 

Secara langsung negara harus memberikan perlindungan pada institusi keluarga sehingga anak akan terlindungi dan haknya sebagai anak pun terpenuhi, juga tersejahterakan. Sebagai aset bangsa, harus ada langkah strategis guna melindungi anak supaya mampu menjadi generasi penerus peradaban.