Fikih Berpolitik (bag. 1): Syarat Menjadi Seorang Pemimpin dalam Islam

Islam yang merupakan agama juga sistem kehidupan tidak hanya mengatur urusan ibadah kepada Allah saja namun juga menjadi pedoman hidup.

Fikih Berpolitik (bag. 1): Syarat Menjadi Seorang Pemimpin dalam Islam

Islam yang merupakan agama juga sistem kehidupan tidak hanya mengatur urusan ibadah kepada Allah saja namun juga menjadi pedoman hidup. Semua aturan di dalamnya harus diaplikasikan dalam kehidupan manusia baik secara individu, keluarga, masyarakat, hingga bangsa dan negara.

Bahkan Islam juga mengatur urusan politik, salah satunya terkait syarat seorang pemimpin negara. Karena dalam Islam, keberadaan seorang pemimpin adalah keniscayaan. 

Dalam fikih dikatakan “wajib bil aqli aw bis syar’i”. Baik dari sudut pandang dalil naqli maupun dalil aqli, pemimpin adalah suatu keharusan. Seorang pemimpin mempunyai fungsi sebagai mediasi bagi segala kepentingan seluruh masyarakat yang pastinya berbeda-beda. Juga untuk mengatur kemaslahatan bagi masyarakat seluruhnya dalam menciptakan keadilan. Seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan tersebut. Karena itulah, Islam menetapkan syarat khusus untuk menjadi seorang pemimpin.

Syarat Menjadi Pemimpin di dalam Islam adalah sebagai berikut:

1. Taklif

Seorang yang sudah terkena taklif yaitu muslim, balig, dan berakal. Untuk itu orang kafir (nonmuslim) tidak boleh dipilih menjadi seorang pemimpin.

Hal tersebut atas dasar firman Allah Taala dalam QS Ali ’Imran ayat 28 yang artinya, "Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah."

Kemudian orang yang tidak berakal, baik karena ia masih kecil atau karena hilang akalnya (gila), tidak boleh diberi atau memegang kekuasaan sama sekali.

2. Laki-laki

Kepemimpinan tertinggi (wilayah kubra) pemerintahan dan pemutus atau pembuat kebijakan negara tidak boleh dipegang oleh seorang perempuan.

Atas dasar hadis dari Abu Bakrah ra beliau berkata, “Tatkala sampai kepada Rasulullah Saw. bahwa penduduk Persia telah dipimpin oleh seorang anak perempuan Kisra (gelar raja Persia), beliau bersabda: 'Suatu kaum tidak akan beruntung jika dipimpin oleh seorang wanita.'” (HR. al-Bukhari: 4073). 

Hal tersebut bukan berarti merendahkan atau melecehkan kaum wanita. Tetapi justru untuk menghormatinya sebagai ummu wa rabbatul bait yaitu sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Sebab seorang ibu mempunyai tugas yang lebih penting yaitu sebagai pencetak generasi unggul untuk peradaban dunia, yang lebih baik lagi.

3. Al-’Adalah atau Al Adil

Syarat ini juga sangat fundamental, karena tanpa memiliki sifat adil kepemimpinan tidak akan ideal. Sifat Al-’Adalah juga akan membuat pelakunya bertakwa, yang menjauhi dosa-dosa, serta hal-hal yang merusak harga dirinya di tengah-tengah umat. Sehingga ia akan menjadi pemimpin yang dicintai dan dirindukan umat (rakyatnya).

4. Berilmu dan Bertsaqafah

Seorang pemimpin dalam Islam haruslah seorang yang mempunyai pengetahuan, ilmu syar’i serta tsaqafah yang luas. Agar dapat membedakan mana yang haq dan batil, mampu berjihad dan berijtihad menentukan kebijakan, mengatur urusan-urusan negara dengan penuh kemaslahatan bagi rakyat juga mengetahui strategi perang untuk menghadapi musuh. 

Seorang pemimpin wajib memiliki ilmu agama dan ilmu politik Islam. Ilmu tentang hukum-hukum Islam dan siyasah syar’iyyah (politik syar’i) ini menjadi paling utama. Karena rakyat tidak hanya butuh kepada pemimpin yang rajin salatnya atau rajin menelaah kitab-kitab ulama, dan berbagai kebaikan lainnya saja. 

Namun, rakyat juga sangat butuh sosok pemimpin yang hadir bersama rakyat dan menuntaskan permasalahan saat kondisi negerinya tengah dilanda kekacauan, saat yang kuat menginjak yang lemah, saat yang berkuasa berbuat semena-mena pada rakyat jelata, karena pemimpin punya peran penting dalam mengatasi masalah negara.

5. Mengerti dan Berwawasan Politik Syar’i secara Matang

Seorang pemimpin harus mengerti dan berwawasan yang memadai terkait politik syar’i untuk pengaturan negara juga kebaikan rakyatnya. Selain itu berpengalaman dalam urusan perang juga mengatur prajurit dan segala kepentingan umum. Juga mampu membela negara, perbatasan dan rakyatnya yang terzalimi dan dari serangan musuh.

6. Memiliki Kondisi Fisik yang Sehat dan Kuat

Pemimpin harus sehat fisik dan panca inderanya. Tidak boleh buta, bisu, atau tuli, karena akan berpengaruh dalam menjalankan tugas beratnya sebagai seorang pemimpin negara, adapun jika memiliki cacat lain yang tidak memengaruhi maka tidak apa-apa. 

Hal itu didasarkan pada penjelasan dari Al-Imam asy-Syaukani Rahimahullahu Taala, beliau berkata, “Yang dimaksudkan dengan kepemimpinan tertinggi adalah pengaturan urusan-urusan manusia secara umum dan secara khusus, serta menjalankan perkara-perkara pada jalurnya dan meletakkannya pada tempatnya, dan ini tidak mudah dilakukan bagi orang yang ada cacat di dalam panca indranya.” (as-Sailul Jarrar 4/507)

7. Seorang Quraisy

Untuk kepemimpinan besar seluruh dunia yakni kaum muslimin dipimpin oleh imamah ’uzhma (seorang khalifah) maka lebih diutamakan berasal dari suku Quraisy. 

Hal ini berdasarkan atas sabda Rasulullah Saw. “Para pemimpin adalah dari Quraisy.” 

Demikian juga, Al-Imam al-Qurthubi Rahimahullahu Taala berkata, “Karena umat telah sepakat bahwa seluruh kepemimpinan-kepemimpinan sah bagi selain Quraisy kecuali imamah kubra.”

Demikianlah syarat seorang pemimpin dalam Islam yang harus diketahui kaum muslim, sebelum menentukan siapa yang akan dipilihnya.