Dengan Bersenjatakan Literasi Digital, Santri kembali Dibidik Moderasi?

BNPT atau Badan Nasional Penanggulangan Terorisme membidik segala pihak untuk mencegah terorisme dengan jalan moderasi.

Dengan Bersenjatakan Literasi Digital, Santri kembali Dibidik Moderasi?

BNPT atau Badan Nasional Penanggulangan Terorisme membidik segala pihak untuk mencegah terorisme dengan jalan moderasi. Salah satunya dengan penandatangan nota kesepahaman (MoU) antara BNPT dan Pesantren Indonesia (IPI).

BNPT melihat IPI sebagai mitra strategis untuk dapat menyebarkan pesan-pesan toleransi dan moderasi beragama dalam pencegahan masuknya paham radikal intoleran yang mengarah pada tindakan kekerasan terorisme. Pesan toleransi ini adalah wajah dari gerakan Islam moderat yang bertumpu pada nilai agama dan kebudayaan. (bnpt.go.id, 31/5/2022)

Menurut BNPT, pesantren dapat menjadi sarang terorisme yang akan mengancam kesatuan bangsa maka dari itu para santri harus mendapatkan wawasan moderasi beragama supaya tidak menjadi radikal.

Oleh karenanya, BNPT dalam kerja sama dengan sejumlah pesantren akan memberikan pelatihan pembuatan konten digital yang dipenuhi pesan perdamaian, toleransi, serta moderasi beragama.

Para santri juga diminta berkontribusi untuk turut melawan radikalisme, salah satunya di dunia maya. Tujuan utama di balik dengan masifnya berbagai program pelatihan digital untuk lingkungan santri. Dinyatakan oleh Wapres Ma’ruf Amin sebagai bagian dari rekontekstualisasi jihad pada hari ini.

Fakta Moderasi 

Nyatanya, fakta moderasi beragama telah mencabik-cabik syariat. Keberadaannya sengaja dibidikkan musuh Islam untuk menghalau bangkitnya Islam. Salah satu buktinya adalah pesantren dianggap sebagai sarang teroris. 

Para santri seolah terus menjadi sasaran karena mereka bagian dari kalangan muda yang memiliki pemahaman agama kuat sehingga punya potensi besar untuk membangkitkan umat. Pemberdayaan ekonomi santri serta pelatihan digital saat ini merupakan program pemandulan potensi bagi santri.

Setelah program pengaburan pemahaman Islam, kemudian mereka dijadikan agen untuk menyebarluaskan paham moderasi khususnya di ruang digital. Dunia maya memang menjadi ruang terampuh dalam menyebarkan berbagai paham. 

Kawula muda yang memang begitu lekat dengan media sosial. Sangat cocok untuk diberikan pelatihan digital khususnya para santri. Ini salah satu upaya untuk menjadikan mereka agen-agen penyebar pemahaman Islam ala Barat. Tentu hal ini akan semakin menjauhkan umat dari ajaran Islam yang sesungguhnya.

Alhasil, alih-alih mendakwahkan Islam yang sahih di tengah umat, justru dengan adanya pelatihan digital ini, para santri malah akan digiring untuk menghalangi sampainya Islam yang benar pada umat (masyarakat).

Inilah realitas yang ada saat ini, yang harus dilihat dan disadari oleh kaum muslimin bahwasanya harga diri, kehormatan, dan umat Islam tampak terinjak-injak. Musuh-musuh Islam dengan leluasanya mampu mengadang kebangkitan Islam, melalui tangan para pemuda muslim sendiri. 

Sementara para penguasa komprador turut patuh dengan ikut menjalankan berbagai tugas yang didiktekan padanya. Seperti, mengaruskan moderasi untuk mengamankan kedigdayaan para penjajah di dalam negeri-negeri muslim.

Pemuda Bangkitlah!

Oleh karenanya, wahai para pemuda, wahai umat mulia! Sadarlah dan bangkitlah!

Kaji dan pahami Islam. Jangan mau menjadi penyambung lidah para penjajah. Jangan sudi jadi kaki tangan mereka. Lakukanlah seruan Islam (dakwah) baik di dunia maya ataupun nyata dengan sebenar-benarnya dakwah. Yaitu dengan menyerukan perintah Allah Taala dan Rasul-Nya, bukan yang diperintahkan oleh kafir Barat dan musuh Islam lainnya. 

Yakinlah. Sesungguhnya di genggaman tangan kalian musuh Islam akan kalah.

Yakinlah. Perubahan besar peradaban dunia bisa diwujudkan dengan kepemimpinan para pemuda.

Maka wahai para pemuda jadilah pemuda hebat pada zamanmu, seperti Usamah bin Zaid di usia 18 tahun telah memimpin pasukan yang beranggotakan para pembesar sahabat seperti Abu Bakar dan Umar dalam menghadapi pasukan terkuat dan terbesar pada masa itu.

Atau seperti Muhammad Al Qasim di usia 17 tahun menjadi seorang jenderal agung pada masanya dan mampu menaklukkan India. Atau Muhammad Al Fatih yang pada usia 22 tahun pada saat para jenderal agung merasa putus asa, Al Fatih mampu menaklukkan Konstantinopel ibu kota dari Byzantium.

Saatnya menjadi pemuda hebat di usiamu sekarang, torehkan karya-karyamu yang luar biasa untuk kebangkitan dan kemuliaan Islam.