Ajang R20 dalam KTT G20 Menggaet Agama, Ada Apa?

R20 (Religion of Twenty) 2022 merupakan sebuah forum dari para pemimpin agama dan sekte. Dihadiri oleh para peserta utama negara anggota G20 yang memanfaatkan posisi dari presidensi Indonesia di tahun ini.

Ajang R20 dalam KTT G20 Menggaet Agama, Ada Apa?

Agenda presidensial G20 (rapat tingkat kepala negara/pemerintahan) yang berlangsung selama satu tahun dari 1 Desember 2021 sampai dengan tanggal 15-16 November 2022 (puncak dari Konferensi Tingkat Tinggi/KTT G20 Indonesia dilaksanakan di Bali) ini diemban oleh Indonesia yang sebelumnya dipegang oleh Italia.

Salah satu rangkaian dari KTT G20 adalah digelarnya Forum Religion of Twenty (R20), yang dilaksanakan awal November. Pra-event R20 ini dianggap jadi pembeda dalam penyelenggaraan KTT G20 pada tahun-tahun sebelumnya.

R20 (Religion of Twenty) 2022 merupakan sebuah forum dari para pemimpin agama dan sekte. Dihadiri oleh para peserta utama negara anggota G20 yang memanfaatkan posisi dari presidensi Indonesia di tahun ini. 

Namun, R20 juga mengundang para pemimpin agama yang berasal dari negara lain di luar anggota G20 sehingga totalnya terdapat sekitar 32 negara. Dengan jumlah peserta mencapai 464 undangan, sebanyak 170 dari luar yang berasal dari lima benua.

R20 tersebut telah rampung dilaksanakan pada 2 dan 3 November 2022 lalu dengan tagline “Revealing and Nurturing Religion as a Source of Global Solutions: an International Movement for Shared Moral and Spiritual Values”. 

Untuk permasalahan yang diangkat di antaranya kemiskinan, politik, polarisasi sosial, kesenjangan global, bangkit dari keterpurukan pandemi Covid-19, serta perang Rusia-Ukraina yang mengancam krisis energi dan pangan global.

Namun menjadi sebuah tanda tanya, tagline yang diambil yang merupakan sebuah kegiatan dalam sistem kapitalisme global, kenapa tetiba harus menarik agama untuk turut dalam menyelesaikan persoalan dunia. Ada apa?

Dibalik Pembahasan Agama dalam R20

Padahal sesuai dengan yang sudah dipahami, bahwasnya kapitalisme yang merupakan turunan dari sekularisme. Yakni ideologi yang memisahkan agama dari kehidupan. Artinya, tidak menjadikan agama sebagai tolok ukur atau pedoman, jadi benar-benar dipinggirkan dan jauhkan dari ranah kehidupan. 

Bahkan, hingga tidak boleh bicara politik, sosial, hukum, pendidikan, dan hal lainnya dengan mengatasnamakan agama. Juga tidak boleh menganalisa persoalan apapun menggunakan sudut pandang agama.

Ternyata dalam R20 ditariknya agama untuk turut ikut andil dalam menyelesaikan persoalan yang ada di dunia saat ini. Bukan dengan mendudukkan agama di tempat yang terhormat. Agama tidak dijadikan rujukan jawaban untuk semua permasalahan yang menimpa masyarakat dunia.

Malah sebaliknya, ajang R20 jadi momentum untuk bisa ketok palu dalam menjatuhkan vonis pada agama, yang dijadikan sebagai pihak yang bersalah. Agama dicap sebagai sumber konflik dan persoalan global dunia sekarang ini. 

Hal tersebut seperti yang katakan oleh Yahya Staquf (salah satu inisiator R20). Secara lugas mengatakan segala kisruh dunia, menurutnya, tidak hanya ada di ruang publik saja tetapi justru ada pada agama itu sendiri.

Baginya, agama selama ini tidak jujur pada dirinya sendiri bahwa dalam agama itu terdapat problem yang mendasar, yang luput dari pembahasan juga keterusterangan para pemimpin agamanya sendiri.

Problem itu adalah doktrin mengenai klaim kebenaran yang sering menolak untuk sharing dengan yang lain (the others). 

Jadi menurut Yahya Staquf, agama seharusnya merefleksikan diri dalam menyelesaikan masalah tersebut dengan melampaui berbagai doktrin eksklusif lalu membangun konsensus kemudian sharing terkait nilai-nilai bersama.

Tanggapan Para Pengamat

Pengamat melihat ini merupakan “pembonsaian” terhadap Islam. Karena Islam adalah agama yang agung dan mulia. Dinun syamilun, kamilun wa mutakamilun, sempurna syariatnya, sempurna pula pembawanya, yakni baginda Muhammad saw.

Dengan sempurnanya Islam tersebut maka seorang muslim tidak lagi butuh syariat atau aturan yang lain. Cukup hanya dengan Islam, manusia bisa hidup dan menyelesaikan persoalan kehidupannya.

Sebagaimana kalam-Nya, Allah Taala berfirman dalam QS. Al Maidah: 3, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Namun barang siapa terpaksa karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Namun, nyatanya di forum R20 Islam didudukkan sama dengan agama lain yang tidak memiliki aturan sesempurna dan sedetail dalam Islam.

Hal mendasar yang kemungkinan akan terjadi adalah terkoyaknya akidah. Jika menggunakan sudut pandang forum R20 maka ayat Allah yang berbunyi "Innad-dīna ‘indallāhil-islām (hanya Islam (agama) yang diridai Allah)." 

Ayat tersebut tidak boleh lagi diyakini, disuarakan, atau diajarkan karena masuk dalam klaim kebenaran yang dapat memicu persoalan dalam masyarakat. Juga akan “diharamkan” mengatakan “kafir” untuk pemeluk agama lain.

Sementara untuk hal yang berkaitan dengan syariat Islam akan banyak yang dianggap sebagai biang permasalahan. Seperti terkait harta riba, kewajiban perempuan dalam menutup aurat, keharaman LGBT, dan hukum syarak lainnya akan dianggap sebagai pemicu konflik.

Kapitalisme Pemicu Kerusakan Bukan Agama

Padahal segala persoalan dan kerusakan yang terjadi secara global dunia saat ini bukanlah imbas dari aturan agama. 

Karena kebijakan dan perundangan yang diterapkan untuk mengatur kebutuhan masyarakat hari ini dibuat atas landasan kapitalisme, bukan berdasarkan agama. 

Jadi segala kerusakan, kemiskinan, hingga ketidakadilan yang terjadi adalah hasil dari diterapkannya kapitalisme, bukan agama. Sementara yang mampu membongkar kerusakan tersebut hanya agama Islam.

Untuk itu, supaya tidak semakin tampak kerusakan yang diakibatkan oleh kapitalisme, Islam dijadikan sebagai target yang dikambinghitamkan dalam forum R20 global ini.