4 Alasan Kenapa Kurikulum Merdeka Dianggap Unggul

Kenapa kurikulum merdeka yang dijalankan Kemendikbud saat ini dianggap unggul? Tetapi mengapa masih banyak keluhan atas kurikulum ini di lapangan?

4 Alasan Kenapa Kurikulum Merdeka Dianggap Unggul
kurikulum merdeka

Sejak tahun ajaran baru 2022 – 2023 sejumlah institusi pendidikan dari taraf SD sampai SMA mulai menerapkan kurikulum merdeka. Digadang gadang memiliki sejumlah keunggulan, sistem baru ini justru menuai banyak keluhan.

Sejumlah pihak, termasuk orang tua, siswa dan tenaga pengajar itu sendiri mengeluhkan kesulitan mereka dalam menerapkan sistem belajar yang dijalankan pada kurikulum merdeka.

Sebenarnya bagaimana keunggulan dari kurikulum merdeka ini, serta apa kendala lapangan yang dihadapi pengguna kurikulum ini sehingga banyak komplain yang masuk terkait kurikulum baru ini.

Melihat Alasan Mengapa Kurikulum Merdeka Dianggap Unggul

Kurikulum merdeka merupakan sebuah adaptasi dari situasi terkini dari situasi belajar mengajar masa kini. Mengalami situasi pandemik dan sejumlah perkembangan saat ini mendorong Kemendikbud membentuk kurikulum yang adaptif dan memiliki ruang luas untuk kebebasan.

Inilah yang menjadi alasan mengapa kurikulum baru ini sebenarnya memiliki keunggulan. Beberapa alasan tersebut antara lain :

Kurikulum yang lebih merdeka dan dinamis

Terbiasa dengan pola belajar lebih bebas selama masa pandemik, tentunya memaksa anak anak kembali duduk manis di depan meja sepanjang hari akan menjadi membosankan. Inilah mengapa kurikulum ini dibuat lebih adaptif dan dinamis

Kurikulum memberi ruang luas untuk diterapkan menggunakan pendekatan yang berbeda beda. Sistem belajar yang sesuai pola karakter siswa yang berbeda beda, termasuk keleluasaan dalam menggunakan beragam alat ajar.

Kurikulum memberi ruang luas untuk penerapan teknologi

Kurikulum ini juga sudah menerima penerapan teknologi dalam proses belajar mengajar. Termasuk penggunaan teknologi digital, penerapan aplikasi online, media sosial, media video digital dan lain sebagainya.

Di satu sisi ini adalah bentuk adaptasi pendidikan Indonesia dengan orientasi anak muda masa kini yang demikian dekat dengan dunia online dan digital. Di sisi lain ini juga mendorong siswa memanfaatkan teknologi dengan positif.

harapannya ke depan siswa siswa sekarang mengantungi cukup dasar untuk terjun ke dunia karier dengan lebih fasih menggunakan perangkat digital, aplikasi online dan sosial media.

Kurikulum menerapkan pendekatan pengalaman

Sebenarnya ini bukan lagi rahasia umum bahwa ilmu yang datang dari pengalaman akan lebih tertanam ketimbang teori dari buku. Pandangan ini yang coba diterapkan dalam kurikulum, yakni dengan mendorong siswa belajar dari pengalaman.

Itu sebabnya, siswa akan terlibat dalam sejumlah project, tugas tugas praktek, presentasi, pembuatan video materi dan lain sebagainya. Sehingga dari proses pengalaman dari tugas tugas ini siswa menyerap ilmu secara lebih optimal.

Materi utama hanya bersifat esensial dengan ruang luas untuk pengembangan bagi guru dan siswa. Siswa tidak lagi dijejali dengan deretan teori dan hafalan materi yang padat.

Di satu sisi proses belajar dengan tugas tugas project semacam ini akan membangun kreativitas sekaligus mengasyikan bagi siswa, tanpa harus terus berhadapan dengan hafalan teori. Di sisi lain proses penyerapan ilmu juga berlangsung dengan lebih optimal.

Sistem Belajar Yang Fleksibel

Setiap sekolah memiliki situasi siswa yang berbeda beda, budaya dan tradisi yang berbeda serta pola komunikasi yang berbeda beda.  Sebenarnya memang sulit menerapkan satu pendekatan mutlak untuk seluruh Indonesia.

Menganut dari pandangan inilah kurikulum merdeka dibangun untuk memberi fleksibilitas bagi guru dan siswa menjalankan proses belajar mengajar dalam pendekatan yang tepat untuk masing masing sekolah.

Kendala Dari Penerapan Kurikulum Merdeka

Meski sejatinya pendekatan dari kurikulum ini sudah sangat baik, tetapi ada banyak kendala muncul di lapangan. Situasi ini tentunya harus tetap disikapi dengan tepat.

Salah satunya adalah kendala perangkat keras seperti komputer dan ponsel. Karena banyak aktivitas belajar menggunakan media online dan digital, sementara beberapa siswa sedikit kesulitan menyediakan sarana sesuai kebutuhan.

Sementara itu, banyak tenaga pengajar kesulitan menjalankan pola fleksibel dan dinamis ala kurikulum merdeka. Pola lama yang seluruh konsep kurikulum ditentukan dari pusat sudah terpola lama pada kebanyakan tenaga pengajar.

Kebiasaan lama inilah yang harus dicermati untuk dapat membentuk kebiasaan baru dalam dunia pendidikan. Tenaga pengajar tidak lagi pasrah dengan pola kurikulum yang kaku, tetapi turut berperan menerapkan kurikulum merdeka dengan optimal.